Refleksi Makna Ramadhan


10 hari berlalu sudah Ramadhan tahun ini (1439 H) atau bertepatan dengan tahun 2018. Apa yang berbeda dengan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya? Semoga bisa lebih baik ya, rugilah kita jika sama dengan tahun sebelumnya, apalagi lebih buruk, celakalah kita. Pilihannya hanya satu, harus lebih baik dari Ramadhan tahun sebelumnya.

Mudah sekali saya menulis demikian, aslinya tidak semudah prakteknya. Akan berbanding lurus dengan Niat dan Kesungguhan kita. Dalam kata lain tergantung sudah seberapa besar Keimananan yg melekat pada diri kita sebelumnya? Ini bahan bakar utama disamping komitmen Jihad, komitmen kesungguhan kita mengoptimalkan waktu Ramadhan ini.

Jika tidak, kita akan mudah sekali teralihkan dengan berbagai kesibukan lain yang melenakan. Jaman Now diamnya kita saja dengan adanya Smartphone yang begitu dekat dengan kita akan membawa kita berselancar kemana saja, membuka media-media sosial, mengamati chat-chat di group, menonton video-video dst

Bukan tidak boleh, selama kontennya positif menambah ilmu dan keimanan dan pada waktu yang tepat dan tidak berlebihan, itu sah sah saja. Jangan sampai terjebak saja berlama-lama dengannya, apalagi dengan konten yang kurang berguna dan sia-sia bahkan yg bisa membawa kemaksiatan.

Jangan lupa orang-orang disekitar kita, kita makhluk sosial yang berwujud fisik, temuilah mereka, ngobrollah langsung, berinteraksilah langsung. Selagi masih ada kesempatan, peluk ciumlah lah anak dan istri, kedua orang tua kita. Jangan biarkan aktifitas ini menjadi langka. Sapalah tetangga-tetangga kita, lakukan sesuatu bersama mereka, hingga lingkungan sosial terluar yg bisa kita jangkau. Akan banyak hal yang menjadi ladang kebaikan dan kemaslahatan.

Ibadah ritual Hablumminallah akan optimal ketika didukung hablumminannas, vertikal-horizontal. Allah pun tidak memisahkannya, ada shalat ada zakat, ada iman ada amal sholeh… harus seimbang. Jangan terlalu lama beribadah ritual, ingat ibadah sosial. Pun sebaliknya.

Ini refleksi untuk saya pribadi khususnya, jangan sampai merasa cukup ketika kita sudah mengerjakan shalat dan membaca al-quran saja misal, lihat keluar, temui orang orang, lakukan sesuatu untuk mereka.

Advertisements

Bandung 1983


Yes, 1983 is my Birth-Year…no longer so young again, most of people now called me “Bapak”, people who called me “mas”, “Aa” or “Kang” in pasundan area tend to be decrease. But it’s very reasonable because now I have 3 childrens 😂

I want to write some nostalgia story about Bandung in the time when I was born and off course telling my story too.

When I was born in 1983, my house and majority of the houses in my area didn’t have electricity. We still use oil lamps a.k.a Lampu Minyak or Lampu Tempel. The best one for that time is Petromax Lamps and we use torch lights (lampu obor) if we want to go outside, this called “cempor” too.

So, I have experience how sleeping with that kind of lights. one of very legend memories is before we sleep, we playing hand-shadow to make some kind of animal by the shadow of our hands.

I born in my own house (actually my parent’s house), not in the hospital or some kind of clinic. My parents just calling “emak paraji” to come when my mom want to birth me. To call emak paraji, that time still no line telephone, no cellular phone, and off course no smartphone! So my father go to emak paraji’s house and request her to come to my house.

Emak paraji doesn’t have standard how much we must pay for her services, it depends on who or what kind of family in term of economic condition, we called it “saridhona” as much as we have ability to pay, and sometimes there is not always pay in money, that can be some food, clothes, etc. I think that time, although my area is a part of the city area of Bandung, the environment is like in the village. The area or the demographic is dominated by Rice Field or we called it “sawah”, also other agriculture field like Corn, Banana, and various vegetables, include the Bamboo Field.

A little Story About Fast Train Project Jakarta-Bandung


I want to write some story here with English again, just try to improve my writing in English, maybe still not properly, but I hope you as the reader can understand what i have wrote here hehe

Now, as a usual, in Saturday night after I have a class of MBA Programme in MM UGM, I go to the Gambir Station and then go to Bandung by the Train, actually now I stayed with my family in Padalarang, West Bandung. Just for weekend we regularly meet together…how a quality time is it. This called the pursuit of happiness, because family is my happiness

There is a big plan from the government to provide Fast Train (Kereta Cepat) from Jakarta to Bandung in 2019. The latest I known, the tender has been done in 2017, and the project goes to Chinese one, after compete with the Japanese one and the project has been launching also by the president of Indonesia Joko Widodo, the first stone take in West Bandung also, if I not mistaken in area of Cikalong Wetan.

But if we searching progress of that project I think there are less information can be found, more popular is another project of infrastructure in preparation of Asian Games 2018 that will held in Jakarta and Palembang in August 2018. Or the LRT, MRT and highway project that on going process that targetted done by this year.

I imagine if there is Fast Train destination form Jakarta to Bandung that only need time for approximately 45 minutes, although the ticket price maybe 100% or 200% higher than Argo Parahyangan, can make a lot of people curious and want to try it, and after that will going normal with exactly segmented people will use the train. The more train with the more schedule in the future can decreasing the price, make it more affordable.

If that kind of situation happened, Bandung will effected significantly in population, it must be anticipated then, to avoid problem in traffic jam, in infrastructure capacity in the city, also about environmental issues. In the economic perspective, off course there are so many opportunities will come, and can increases the income in the region.

Pelajaran di Kereta


Argo Parahyangan, 24 Februari 2018

Mulai menjadi rutinitas setiap Sabtu sore pulang ke Bandung, naik kereta sehabis kuliah di UGM Jakarta di bilangan Jl. Saharjo Tebet,butuh waktu sekitar 15″ saja menuju stasiun Gambir. 

Hari ini duduk bersebelahan dengan seorang Bapak yang cukup senior, sedikit ngobrol tentang aktifitas pekerjaannya di Jakarta. Beliau habis meeting dengan staffnya yang masih muda-muda di perusahaan konsultannya yang mendapatkan pekerjaan politik untuk kampanye melalui media elektronik, termasuk didalamnya melalui media sosial.

Beliau bercerita, perusahaannya baru dirintis, pekerjaan politik tadi tidak bertujuan untuk mencari profit, hanya ingin menunjukan eksistensinya, sebagai Batu loncatan untuk tujuan berikutnya yang lebih besar. Satu pelajaran yang Saya dapati, Bisnis jangan selalu dimulai  dari menghitung untung-rugi secara langsung. Ada keuntungan dalam bentuk lainnya yang bisa didapatkan terlebih dahulu, sebagai modal reputasi, modal kesempatan untuk eksis.

Kedua, beliau menyinggung staff-staffnya yang masih muda-muda dibawah 30 tahun, bahkan Senior Managernya masih kepala 3 usianya. Mereka kebanyakan sebetulnya karyawan di sebuah perusahaan, namun berkeinginan membangun perusahaan sendiri. Saat ini pun mereka masih berstatus karyawan, jadi paralel dilakukan. Hingga suatu saat perusahaan barunya ini sudah settle, mereka siap pindah kedalamnya. Yang mereka kerjakan adalah Business Jaman Now, full of digital and IT approach. Bagi mereka dunia ini masih penuh dengan peluang Dan kesempatan yang besar. Semangat kemajuan ini yang Saya ambil sebagai pelajaran kedua.

Terakhir, Bapaknya ini membuat Saya salut, lulusan salah satu kampus di Australia ini masih bersemangat untuk mendorong dan mengembangkan anak-anak Muda tadi mencapai cita-citanya di usianya yang termasuk masanya pensiun, beliau masih mau repot-repot bolak balik Bandung-Jakarta untuk itu. 

Tidak ada kata terlambat untuk terus meningkatkan kualitas dan produktifitas diri, semoga pelajaran tadi bermanfaat untuk mengingatkan diri pribadi khususnya, umumnya untuk Kita semua.

Salam Perubahan

Jurnal Perjalanan (J.U.R.N.A.L & J.O.U.R.N.E.Y)


Entah sejak kapan blog pribadi saya yang semula beralamatkan irwanirawan.wordpress.com (sempat berganti domain irwanirawan.com, dan saat ini irwanirawan.net) diberi judul J.O.U.R.N.E.Y, seinget saya memang tidak sedari awal judul itu saya buat pertama kali. Pun saya belum tahu persis kapan blog pribadi istri saya juga diberi judul J.U.R.N.A.L (asriputririzqiah.wordpress.com). Namun demikian sejak kami berkenalan, kedua blog kami sudah demikian adanya judulnya, ternyata cukup identik karena :

  1. Penulisannya sama-sama tulisan kapital besar yang dipisahkan dengan titik.
  2. Huruf awal yang sama, dimulai dengan huruf J
  3. Terdapat 4 huruf yang sama : J, U, R, dan N

Presentation1

Kemudian saya penasaran untuk membandingkan blog mana yang duluan lahir? hipotesis saya punya istri saya yang duluan lahir karena dia lebih suka menulis dibanding saya, ternyata faktanya tidak. Blog saya yang duluan lahir.. tepatnya 5 September 2007, sedangkan punya istri saya lahir 9 Juni 2008! tanggalnya bertepatan dengan tanggal lahir Akhtar, anak pertama kami.

Sedangkan untuk jumlah posting, siapakah yang paling produktif? blog istri saya selama ini sejak 2008 telah memposting sebanyak 339 Posting, sedangkan saya sebanyak… 198 Posting! sejak 2007.. kalah jauh saudara-saudara…. haha dan tentu saja jumlah views akan berbanding lurus dengan jumlah posting, jika punya saya nyaris 100 ribu (99.855), bisa jadi punya istri saya berkali-kali lipatnya.

Demikian sedikit statistik tentang blog kami berdua hahaha

Yang pasti jika dikait-kaitkan, Jurnal dan Journey ini memang kisah perjalanan kami berdua dalam mengarungi kehidupan ini, apa-apa yang berkesan, apa-apa yang ingin kami share, apa-apa yang kami ingin curahkan, kebetulan – meskipun kadarnya berbeda, kami suka menuliskan dan mengabadikannya melalui tulisan. Yang baik-baik dan bermanfaat silahkan ambil manfaatnya, yang jelek-jelek mohon dimaklumi dan dimaafkan, kalau perlu diingatkan saja jika ada yang salah dan kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 🙂

Asas Ketuhanan dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab


Nonton acara ILC edisi 19 Desember 2017 yang lalu yang membahas putusan Judicial Review Mahkamah Konstitusi terkait usulan Hukum Pidana Perzinahan dan LGBT sukses membuat emosi memuncak. Tak heran semenjak putusan itu diketuk palu, masyarakat pun ramai membicarakannya di Media Sosial. Yang pro dan kontra pun mulai berisik lagi berdebat, informasi pun mulai terdistorsi, muncul stigma-stigma yang provokatif, ujungnya membangkitkan pertarungan pemikiran dan idiologinya masing-masing.

Maka dengan sendirinya masyarakat pun terbagi, setidaknya yang pro dan yang kontra. Jelas yang pro terhadap pemidanaan perzinahan dan LGBT (pemidanaan lebih pas rasanya daripada kriminalisasi yang cenderung menjadi stigma negatif) adalah mayoritas dari kalangan umat islam selaku pemohon hukum, namun demikian masih ada segelintir dari umat islam sendiri yang menentangnya, kalangan ini mengidentifikasikan dirinya sebagai Islam Liberal, Islam Anti Diskriminasi, Islam Nusantara dst, sebuah arus pemikiran yang “bebas”. Di sisi kontra lainnya ada sebagian umat beragama lainnya di kalangan katolik yang berpendapat urusan tersebut tidak perlu masuk ranah hukum pidana, dan LSM – LSM yang selalu menjunjung tinggi label HAM dan Kebebasan.

Sejatinya, jika kita kembali memahami dasar negara kita, semangatnya adalah Asas Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila 1 Pancasila) dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (Sila ke-2 Pancasila), tanpa susah-susah menafsirkan, akal sehat akan mudah menyimpulkan ketika menghubungkannya dengan kasus perzinahan dan LGBT tersebut bahwa jelas itu bertentangan! Perzinahan dan LGBT bertentangan dengan Perintah Tuhan! Perzinahan dan LGBT tidak menunjukan Kemanusiaan Yang Beradab! itu biadab!

Namun uniknya pikiran manusia, tidak semua seperti yang kita atau saya pikirkan. Pasti banyak kondisi yang menyebabkannya, dan tidak mudah kita memahaminya kenapa. Itulah manusia, maka biarkanlah apa yang menjadi sistem kesepakatan bersama berjalan. Biarkanlah Demokrasi memutuskannya, kalaupun harus jumlah suara yang menentukan, itu sudah menjadi sistem yang disepakati. Maka Anggota DPR dan Pemerintah dalam hal ini harus mengambil tanggungjawab ini, karena buat saya ini hal yang mendasar dan sangat penting demi kualitas manusia dan masa depan Bangsa.

 

Indonesia Bersatu Bela Palestina


Pada hari minggu, tanggal 17 Desember 2017 di Lapangan Monas – Jakarta, kembali Umat Islam Indonesia berkumpul untuk mengadakan aksi atas inisiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah beberapa waktu sebelumnya reunian 212 di tempat yang sama.

Kali ini isunya adalah tentang pengakuan sepihak dari Amerika Serikat melalui presidennya Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Negara Israel dari Tel Aviv. Dan atas pengakuan itu, Amerika Serikat hendak memindahkan Kantor Kedutaan Besarnya di Israel ke Yerusalem pula.

Sontak hal tersebut mengundang reaksi keras dunia, tidak hanya di Negera yang mayoritas penduduknya Muslim, yang Non – Muslim pun seperti Jerman dan Perancis turut mengecam pengakuan sepihak tersebut, selain akan mengancam perdamaian dan keamanan dunia, hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap Resolusi PBB atas permasalahan Palestina – Israel dan hanya akan mempertajam pertikaian dan peperangan diantara keduanya.

“Untuk menggiring dan menggembala domba supaya lebih mudah diarahkan dan disatukan, seorang pengembala biasanya menggunakan hewan Anjing untuk menggembala di padang rumput”, demikian penggalan kata – kata dari KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym) di sela – sela orasinya menumpamakan kejadian diatas, Umat Islam khususnya di Indonesia lebih mudah disatukan dengan isu Palestina ini. Tapi bukan berarti mengumpakan bahwa Presiden Amerika adalah Anjing. Pada aksi kali ini lebih banyak elemen ormas Islam ikut bergabung dibandingkan Aksi 212 sebelumnya, menandakan persatuan semakin bertambah dalam isu ini.

IMG_20171217_072939[1]

Sebagian orang masih meragukan efek dari aksi – aksi seperti ini apakah bisa berpengaruh atau tidak terhadap keputusan Amerika Serikat. Mungkin hanya beranggapan cuma Omdo (Omong Doang). Padahal sejatinya tidak! yang hadir aksi merupakan garda – garda terdepan dalam urusan Palestina, tidak di Indonesia saja, mereka memiliki titik – titik perjuangan di medan jihad Palestina sana. Ada yang berjuang di Bidang Medis dengan membangun Rumah Sakit dan mengirim relawan dokter, ada yang di bidang pendidikan dengan membangun mesjid dan pesantren dan sekolah disana, mengirimkan bantuan makanan dan logistik, dan tidak bisa dipungkiri pula tanpa sepengetahuan pemerintah terdapat laskar pasukan juga yang seringkali lolos pergi ke medan pertempuran sana yang dicap teroris seperti di Afghanistan dulu.

Poin persatuan ini yang harus terus dipelihara dan dikedepankan ditengah perbedaan pendapatan dan pengkotak-kotakan ormas atau organisasi islam. Umat Islam jangan lagi terjebak didalamnya, sebaiknya lihat permasalahan umat, lihat musuh bersama dan bergotong royong berjuang menyelesaikannya secara bersama – sama. Cara boleh beda tapi tujuan sama dan melangkah bersama – sama.