Jurnal Perjalanan (J.U.R.N.A.L & J.O.U.R.N.E.Y)


Entah sejak kapan blog pribadi saya yang semula beralamatkan irwanirawan.wordpress.com (sempat berganti domain irwanirawan.com, dan saat ini irwanirawan.net) diberi judul J.O.U.R.N.E.Y, seinget saya memang tidak sedari awal judul itu saya buat pertama kali. Pun saya belum tahu persis kapan blog pribadi istri saya juga diberi judul J.U.R.N.A.L (asriputririzqiah.wordpress.com). Namun demikian sejak kami berkenalan, kedua blog kami sudah demikian adanya judulnya, ternyata cukup identik karena :

  1. Penulisannya sama-sama tulisan kapital besar yang dipisahkan dengan titik.
  2. Huruf awal yang sama, dimulai dengan huruf J
  3. Terdapat 4 huruf yang sama : J, U, R, dan N

Presentation1

Kemudian saya penasaran untuk membandingkan blog mana yang duluan lahir? hipotesis saya punya istri saya yang duluan lahir karena dia lebih suka menulis dibanding saya, ternyata faktanya tidak. Blog saya yang duluan lahir.. tepatnya 5 September 2007, sedangkan punya istri saya lahir 9 Juni 2008! tanggalnya bertepatan dengan tanggal lahir Akhtar, anak pertama kami.

Sedangkan untuk jumlah posting, siapakah yang paling produktif? blog istri saya selama ini sejak 2008 telah memposting sebanyak 339 Posting, sedangkan saya sebanyak… 198 Posting! sejak 2007.. kalah jauh saudara-saudara…. haha dan tentu saja jumlah views akan berbanding lurus dengan jumlah posting, jika punya saya nyaris 100 ribu (99.855), bisa jadi punya istri saya berkali-kali lipatnya.

Demikian sedikit statistik tentang blog kami berdua hahaha

Yang pasti jika dikait-kaitkan, Jurnal dan Journey ini memang kisah perjalanan kami berdua dalam mengarungi kehidupan ini, apa-apa yang berkesan, apa-apa yang ingin kami share, apa-apa yang kami ingin curahkan, kebetulan – meskipun kadarnya berbeda, kami suka menuliskan dan mengabadikannya melalui tulisan. Yang baik-baik dan bermanfaat silahkan ambil manfaatnya, yang jelek-jelek mohon dimaklumi dan dimaafkan, kalau perlu diingatkan saja jika ada yang salah dan kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh šŸ™‚

Advertisements

Asas Ketuhanan dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab


Nonton acara ILC edisi 19 Desember 2017 yang lalu yang membahas putusan Judicial Review Mahkamah Konstitusi terkait usulan Hukum Pidana Perzinahan dan LGBT sukses membuat emosi memuncak. Tak heran semenjak putusan itu diketuk palu, masyarakat pun ramai membicarakannya di Media Sosial. Yang pro dan kontra pun mulai berisik lagi berdebat, informasi pun mulai terdistorsi, muncul stigma-stigma yang provokatif, ujungnya membangkitkan pertarungan pemikiran dan idiologinya masing-masing.

Maka dengan sendirinya masyarakat pun terbagi, setidaknya yang pro dan yang kontra. Jelas yang pro terhadap pemidanaan perzinahan dan LGBT (pemidanaan lebih pas rasanya daripada kriminalisasi yang cenderung menjadi stigma negatif) adalah mayoritas dari kalangan umat islam selaku pemohon hukum, namun demikian masih ada segelintir dari umat islam sendiri yang menentangnya, kalangan ini mengidentifikasikan dirinya sebagai Islam Liberal, Islam Anti Diskriminasi, Islam Nusantara dst, sebuah arus pemikiran yang “bebas”. Di sisi kontra lainnya ada sebagian umat beragama lainnya di kalangan katolik yang berpendapat urusan tersebut tidak perlu masuk ranah hukum pidana, dan LSM – LSM yang selalu menjunjung tinggi label HAM dan Kebebasan.

Sejatinya, jika kita kembali memahami dasar negara kita, semangatnya adalah Asas Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila 1 Pancasila) dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (Sila ke-2 Pancasila), tanpa susah-susah menafsirkan, akal sehat akan mudah menyimpulkan ketika menghubungkannya dengan kasus perzinahan dan LGBT tersebut bahwa jelas itu bertentangan! Perzinahan dan LGBT bertentangan dengan Perintah Tuhan! Perzinahan dan LGBT tidak menunjukan Kemanusiaan Yang Beradab! itu biadab!

Namun uniknya pikiran manusia, tidak semua seperti yang kita atau saya pikirkan. Pasti banyak kondisi yang menyebabkannya, dan tidak mudah kita memahaminya kenapa. Itulah manusia, maka biarkanlah apa yang menjadi sistem kesepakatan bersama berjalan. Biarkanlah Demokrasi memutuskannya, kalaupun harus jumlah suara yang menentukan, itu sudah menjadi sistem yang disepakati. Maka Anggota DPR dan Pemerintah dalam hal ini harus mengambil tanggungjawab ini, karena buat saya ini hal yang mendasar dan sangat penting demi kualitas manusia dan masa depan Bangsa.

 

Indonesia Bersatu Bela Palestina


Pada hari minggu, tanggal 17 Desember 2017 di Lapangan Monas – Jakarta, kembali Umat Islam Indonesia berkumpul untuk mengadakan aksi atas inisiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah beberapa waktu sebelumnya reunian 212 di tempat yang sama.

Kali ini isunya adalah tentang pengakuan sepihak dari Amerika Serikat melalui presidennya Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Negara Israel dari Tel Aviv. Dan atas pengakuan itu, Amerika Serikat hendak memindahkan Kantor Kedutaan Besarnya di Israel ke Yerusalem pula.

Sontak hal tersebut mengundang reaksi keras dunia, tidak hanya di Negera yang mayoritas penduduknya Muslim, yang Non – Muslim pun seperti Jerman dan Perancis turut mengecam pengakuan sepihak tersebut, selain akan mengancam perdamaian dan keamanan dunia, hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap Resolusi PBB atas permasalahan Palestina – Israel dan hanya akan mempertajam pertikaian dan peperangan diantara keduanya.

“Untuk menggiring dan menggembala domba supaya lebih mudah diarahkan dan disatukan, seorang pengembala biasanya menggunakan hewan Anjing untuk menggembala di padang rumput”,Ā demikian penggalan kata – kata dari KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym) di sela – sela orasinya menumpamakan kejadian diatas, Umat Islam khususnya di Indonesia lebih mudah disatukan dengan isu Palestina ini. Tapi bukan berarti mengumpakan bahwa Presiden Amerika adalah Anjing. Pada aksi kali ini lebih banyak elemen ormas Islam ikut bergabung dibandingkan Aksi 212 sebelumnya, menandakan persatuan semakin bertambah dalam isu ini.

IMG_20171217_072939[1]

Sebagian orang masih meragukan efek dari aksi – aksi seperti ini apakah bisa berpengaruh atau tidak terhadap keputusan Amerika Serikat. Mungkin hanya beranggapan cuma Omdo (Omong Doang). Padahal sejatinya tidak! yang hadir aksi merupakan garda – garda terdepan dalam urusan Palestina, tidak di Indonesia saja, mereka memiliki titik – titik perjuangan di medan jihad Palestina sana. Ada yang berjuang di Bidang Medis dengan membangun Rumah Sakit dan mengirim relawan dokter, ada yang di bidang pendidikan dengan membangun mesjid dan pesantren dan sekolah disana, mengirimkan bantuan makanan dan logistik, dan tidak bisa dipungkiri pula tanpa sepengetahuan pemerintah terdapat laskar pasukan juga yang seringkali lolos pergi ke medan pertempuran sana yang dicap teroris seperti di Afghanistan dulu.

Poin persatuan ini yang harus terus dipelihara dan dikedepankan ditengah perbedaan pendapatan dan pengkotak-kotakan ormas atau organisasi islam. Umat Islam jangan lagi terjebak didalamnya, sebaiknya lihat permasalahan umat, lihat musuh bersama dan bergotong royong berjuang menyelesaikannya secara bersama – sama. Cara boleh beda tapi tujuan sama dan melangkah bersama – sama.

 

 

 

Menyeru Kebaikan Tidak Menunggu Baik Dulu


“Jangan menunggu sempurna untuk memulai, tapi mulailah untuk menjadi sempurna!”. Begitupun dalam hal menyeru tentang kebaikan. Jangan menunggu diri kita melakukan semua kebaikan, baru kita menyeru kepada orang lain untuk melakukan kebaikan. Seringkali kita terjebak dengan paradigma seperti itu, ketika kita masih banyak kesalahan dan dosa, namun kita tahu kebaikan – kebaikan yang sebaiknya dilakukan oleh orang lain, maka tetaplah untuk menyampaikan dan menyerukan kebaikan itu kepada orang lain bersamaan dengan menyeru hal yang sama kepada diri sendiri.

Dua hal tersebut bukan sebuah alur proses yang bertahap, tapi keduanya dilakukan secara bersamaan. Menyeru diri sendiri sekaligus menyeru orang lain. Merubah diri sekaligus merubah orang lain. Semakin kita konsisten dengan itu, semakin kuat pengaruh yang ada.

Karena kita adalah manusia yang MUSTAHIL luput dari kesalahan dan dosa, maka ketika kita berparadigma kita tidak bisa menyeru orang lain sebelum kita sendiri melakukannya, maka akan tidak ada orang yang menyeru tentang kebaikan itu, karena pasti tidak mungkin kondisi itu terjadi, tidak ada orang yang dapat bebas dari kesalahan, sekelas Rosul sekalipun sama, bedanya beliau langsung dimaksum, dalam perhatian khusus Allah, ketika melakukan kesalahan langsung diingatkan dan mendapatkan petunjuk secara langsung atau melalui Malaikat – Nya.

Ada satu ungkapan yang menarik yang saya dapatkan dari salah seorang seorang pemimpin puncak perusahaan, kurang lebih begini : “Seringkali kemudahan membuat kita sulit sekali untuk berubah, namun sebaliknya kesulitan – lah yang seringkali membuat kita lebih mudah untuk berubah“. Apa hubungannya dengan yang saya sampaikan diawal?

Kita cenderung merasa aman dan nyaman dengan alasan kita masih belum benar, sehingga enggan, tidak melakukan seruan dan ajakan kebaikan, bahkan bisa jadi acuh tak acuh ketika menyaksikan ketidakbenaran dan tindakan yang salah terjadi disekitar kita. Kondisi nyaman itu adalah bagian dari kemudahan. Dalam lingkup yang luas lagi, misalnya dikantor, kita enggan berubah ketika kita terjebak dalam kebiasaan dan rutinitas yang sudah nyaman, tidak ada konflik, tidak bekerja keras, biasa – biasa saja, namun tetap mendapatkan penghasilan yang cukup, padahal kondisi lingkungan semakin berubah dengan cepat dan menuntut perubahan bisnis yang lebih baik lagi, jika tidak maka bisnis perusahaan akan terancam.

3 bulan jadi 2 tahun, 5 tahun jadi 6 tahun (lebih)


Bosan dengan keluhan, dan keluhan itu jelas memang bukan hal yang baik dan dianjurkan. Namun tentu kita itu butuh pencurahan, pelepasan, penyampaian. Semoga dengan begitu ada pelajaran dan manfaat yang bisa didapatkan.

Apa maksudnya 3 bulan jadi 2 tahun?

a18a2236-d715-45f9-90ad-9d521160f38d_169

Pada tahun 2008 silam, sekitar 9 tahun yang lalu, tepatnya di bulan Februari 2008, saya pernah menetapkan sesuatu, ketika sebuah perusahaan yang sebetulnya tidak menjadiĀ pilihan tempat untuk meniti karir dan sumber rejekiĀ  menawarkan minatnya untuk saya bergabung didalamnya. Dengan pertimbangan sebagai batu loncatan untuk sesuatu yang lebih baik di Ibu Kota, saya pun menerimanya dengan niatan selama 3 bulan saja selama masa percobaan. Jadi 3 bulan itu masa percobaan.

Tinggal di Ibu Kota, waktu rasanya berlari begitu cepatnya, 3 bulan pun sekejap mata, tahu – tahu baru tahun ke – 2 saya betul betul menemukan batu loncatan. Waktu yang sebetulnya terlalu lama, terlalu terlambat. Tapi itulah faktanya,Ā batu loncatan ituĀ  baru ditemukanĀ setelah 2 tahun.

Di tempat yang baru ini pun sebetulnya masih belum sesuai dengan yang diharapkan , meskipun tempat ini jauh lebih baik dari tempat sebelumnya, masih ada hal yang mengganjal yang tidak sesuai dengan tujuan dan prinsip yang dipegang. Sehingga ketika pertama kali masuk pun pernah menetapkan sesuatu, di tempat yang baru ini cukup 5 tahun saja sesuai masa ikatan dinas.

Waktu pun kembali berlari begitu cepatnya, tahu – tahu saat ini sudah menginjak tahun ke-7, atau tahun ke-6 dari masa ikatan dinas. Sudah terlambat 1 tahun dari cita-cita awal. Kembali mempertanyakan ketetapan itu apakah masih relevan untuk dikejar? jawabannya masih iya, cita-cita sesungguhnya masih terngiang, butuh kesungguhan dan upaya lebih serius lagi untuk mewujudkannya. Namun lagi-lagi waktunya meleset dan terlambat.

Astaghfirullah…

Digitalisasi InEfisiensi


Pada prinsipnya dengan adanya Digitalisasi, baik demi tujuan Bisnis maupun Non-Bisnis, adalah Efisiensi. Lantas apakah itu Efisiensi? kalau boleh menyimpulkan apa yang saya dapat di Kuliahan Kampus Fakultas Ekonomi, efisiensi itu “Do The Things Right” bagian yang seringkali tidak dapat dipisahkan dari yang namanya Efektifitas dengan tagline “Do the Right Things” itu satu, yang artinya upaya mengelola sumberdaya se-baik-baiknya, untuk mencapai tujuan seoptimal mungkin.

Lebih membumi lagi, efisiensi cenderung akan bersinggungan langsung dengan yang namanya “Cost” atau biaya. Namun jangan lupa ketika berbicara Biaya, konsepnya itu sangat luas.. tidak sebatas apa yang ada di pembukuan akuntansi di Laporan Keuangan, sebuah kesempatan yang hilang pun adalah biaya, itulah yang disebut “Opportunity Cost” yang bisa juga diukur dengan hilangnya manfaat atas waktu yang dikorbankan.

Sehingga, Digitalisasi akan memangkas biaya, memangkas alur proses, memangkas birokrasi, bahkan memangkas Sumber Daya Manusia! apa ini sebuah kerugian? ya tergantung sudut pandang apa yang dipakai. Bagi yang menginginkan efisiensi supaya Bisnis lebih efisien sehingga pendapatan bisa bertambah, pastilah sangat menguntungkan.

Namun, bagi yang memiliki sumber penghasilan atas apa yang dipangkas akibat digitalisasi, niscaya adalah sebuah kerugian besar! Bahkan sebuah ancaman kebangkrutan! itulah yang terjadi dengan Perusahaan Transportasi Konvensional yang tidak siap dengan adanya Digital Mobile Service dan Digital Business Model. Calo – calo proyek, bahkan calo-calo birokrasi perizinan akan kehilangan pekerjaan jika proyek sudah diproses secara online digital (e-Procurement) atau perizinan pemerintah terintegrasi online, yang tidak lagi bertatap muka secara langsung.

Bagi negara Indonesia yang mayoritas masih berada dalam kemiskinan dan inEfisensi, digitalisasi masih belum sepenuhnya dapat diterima, akan ada penolakan-penolakan, bahkan bentrokan. Tak jarang terjadi perkelahian dan pengrusakan, demonstrasi dll karena ada yang dirugikan, mereka yang tidak siap mengalami perubahan. Disinilah peran pemerintah, yang wajib melindungi semuanya supaya ADIL. Mudah? tentu saja tidak semudah itu…

Bersungguh-sungguh!


Waktu semakin cepat berlalu seiring berkurangnya jatah waktu hidup di Dunia ini. Kapan tiba saatnya habis waktu Kita? Bahkan orang-orang terdekat yg Kita cintai semakin dekat dengan ujung waktu. Lantas sudahkah kita memberikan yang terbaik yang bisa Kita lakukan? Jleb! Jangan sia-siakan kesempatan dan waktu yang ada, sekali berlalu, selamanya takkan pernah kembali lagi.

Jangan malas! Jangan Malas! Jangan Malas! 

Selagi Kita Masih hidup, selagi masih sehat,masih kuat, Masih bisa berpikir, masih Banyak kesempatan. Lakukan apapun yang terbaik, bersungguh-sungguhlah dalam segala Hal, optimalkan kemampuan Dan potensi yang ada, Jangan sia-siakan! Bersyukurlah atas anugerah yang Allah berikan