Tentang Kegiatan Ekonomi Syariah (1)


Tergerak untuk ikut menulis tentang perjuangan ekonomi syariah di Indonesia, namun bagi saya terlalu berat bahasanya kalau disebut perjuangan. Karena yang saya alami masih jauh dari kata perjuangan, karena sejatinya perjuangan itu sungguh-sungguh, mujahadah, tidak berlebihan kalau disebut jihad. Totalitas.. sampai titik pengorbanan yang optimal.Yang saya alami rasanya masih jauh dari itu, belum optimal apa yang telah dilakukan.

Saya mulai dari menceritakan kembali masa lalu saya semasa kuliah dulu, waktu dimana waktu itu saya sedikit banyak ada dalam aktifitas ekonomi syariah, terutama di lingkungan kampus, lingkungan mahasiswa, dari lingkup fakultas sampai universitas se Indonesia.

Harapan saya dengan pengalaman saya tersebut, yang membaca tulisan ini, terutama yang sekarang ada di posisi seperti saya waktu itu dapat mengambil pelajaran dan manfaat, sehingga bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dalam rangka memperjuangkan ekonomi syariah di lingkungannya masing-masing.

Apa sebetulnya perjuangan ekonomi syariah itu??

Pada intinya menurut saya hanya dua arahnya : bagaimana memahamkan orang akan ekonomi syariah itu sendiri dan bagaimana cara menerapkan atau mengamalkan ekonomi syariah itu sendiri. Sesederhana itu saja misinya.

Namun dalam prosesnya ini tidak semudah yang dibayangkan. Jangan melihat orang lain dulu, kita lihat diri kita masing-masing dulu. Sudah sejauh mana kita memperjuangkan kedua hal tersebut???

Sudahkah kita sendiri bermujahadah untuk itu?? Karena ini sangat penting. Sebelum kita mengajak orang lain, kita sendiri harus melakukannya terlebih dahulu. Bukan berarti menunggu sempurna, tapi ini harus dilakukan, tentu bagi diri kita sendiri gakkan pernah tuntas, tapi kita harus memproses diri kita dulu, baru memproses orang lain.

Pertama kali tertarik dengan aktifitas ekonomi syariah karena kegiatan Musyawarah Nasional (MUNAS) FOSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) ke-IV di Bandung, tepatnya bertempat di Pusdiklatnya Telkom di Geger Kalong. Waktu itu ISEG Unpad yang menjadi tuan rumah sekaligu s sebagai panitianya. Waktu itu saya hadir di acara tersebut sebagai undangan, karena waktu itu saya  pengurus KKMB (Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa Bandung), diundang oleh ISEG untuk acara tersebut. Kalau tidak salah itu sekitar tahun 2004.

Saya kagum dengan acara tersebut. Banyak sekali yang hadir, perwakilan dari Perguruan Tinggi Ternama di Indonesia, baik Negeri maupun Swasta.  Jasnya warna warni.. dari mulai UI, UGM, IPB, Unair, Unibraw, Undip, STIE2, dll hadir. Kemudian pembicara yang hadir juga luar biasa, sewaktu saya hadir itu pas acara seminarnya, pembicaranya ada dari praktisi, akademisi, ulama, dan regulator perbankan.. salah satunya Adiwarman Karim waktu itu yang membuat saya tertarik.

Dari acara itulah saya mengenal Ekonomi Syariah pertama kalinya dalam artian aktifitas yang menarik dan terorganisir dengan baik. Dan pertama kali juga mengenal yang namanya ISEG Unpad dan FOSSEI. Sepulang dari acara tersebut saya langsung berniat untuk bergabung dengan organisasi tersebut.

Disamping itu, karena saya menjadi bagian dari Ponpes Daarut Tauhiid juga waktu itu, yang didalamnya juga terdapat aktifitas ekonomi syariah, seperti kegiatan lembaga amil zakat dan wakaf, serta koperasi syariah, bahkan ada BMT yang berjalan disana. Menambah ketertarikan saya untuk berkecimpung didalam kegiatan ekonomi syariah.

Maka tak lama dari itu, saya langsung daftar jadi anggota ISEG. Saya merasakan agak sulit juga dulu untuk masuk ISEG, saya agak lupa detailnya. Hanya cukup kerepotan mendapatkan formulir, dan menulis paper tentang ekonomi syariah. Atau karena  saya kurang info aja kali ya, karena jarang ada di kampus selain waktu kuliah. Belum begitu kenal dengan pengurus iseg, sehingga sempat kesulitan.

Saya masih ingat, paper yang saya tulis waktu itu temanya tentang BMT. Kenapa BMT? Pertama karena di DT ada BMT, kedua karena di Dompet Dhuafa juga ada BMT Center. Dan BMT-BMT itu terhitung sukses..dalam menjalankan usahanya. Waktu itu BMT hal baru buat saya, sehingga tertarik untuk memahaminya dan menuliskannya. Dan sejak awal masuk ISEG tersebut saya sudah kepikiran untuk buat semacam BMT di lingkungan kampus. Sederhananya kalau di Kampus boleh ada Kopma, kenapa tidak BMT aja sekalian yang Syariah, malah lebih menarik prakteknya dari sekedar Koperasi Mahasiswa

Maka dari pertama kali bergabung, orientasi saya pribadi saya langsung ke prakteknya, modelnya adalah model BMT. Selanjutnya tentang BMT ini Insya Allah akan saya tulis tersendiri.

Dari cerita pertama ini, yang menjadi catatan adalah  :

  1. Bagaimana menarik minat masyarakat, apa yang menarik bagi mereka? Untuk mahasiswa, yang namanya seminar interaktif, diskusi-diskusi dengan mendatangkan tokoh yang bisa merepresentasikan perjuangan ekonomi syariah, itu masih efektif untuk gerbang awal. Jadikan itu pintu utama, datangkan orang terbaik ke kampus..
  2. Kemudahan Informasi, Kemudahan Komunikasi, Kemudahan untuk bergabung, sebaiknya setelah ada semacam kegiatan di No 1, langsung ada follow up-nya  di tempat kegiatan, untuk pendaftaran jadi anggota, atau pendaftaran untuk kegiatan selanjutnya, lebih baik lagi sudah disiapkan sepaket kegiatan selanjutnya yang bisa ditawarkan,,jadi tidak terputus. Langsung buat jaringan komunikasi dan informasi dengan mereka, dan selanjutnya harus dimaintenance.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s