Tentang Kegiatan Ekonomi Syariah (3)


Tahun pertama berkecimpung di kegiatan kegiatan ekonomi syariah habis mengurusi internal pengurus ISEG. Puncaknya akhirnya kedapatan amanah untuk menyelenggarakan Kongres ISEG ke VI, acara musyawarah tahunan untuk memutuskan hal strategis organisasi, memilih ketua baru, pertanggungjawaban ketua lama, dan merumuskan AD/ART dan hal strategis lainnya.

Yang menarik disini adalah saya bisa jadi salah satu calon ketua, di ISEG namanya President.. agak kaget juga ada yang mengusulkan saya, gak kepikiran juga sebelumnya. Biasanya di ISEG baru memasuki tahun ke-3 baru bisa jadi calon president, jadi ada jalur karir.. staf dulu baru manajer baru jadi pengurus inti/ jadi president.. jadi mestinya yang dicalonin disitu adalah mereka yang sudah jadi manajer, tapi saya yg masih staff langsung jadi calon president.. salah satu dari 3 orang calon president ISEG. apa karena saya ketahuan lebih tua ya? hehe tapi ada staf yang lebih tua juga, bahkan mumpuni tapi gak dicalonin..

Waktu itu saya tampil kurang meyakinkan..udah lumayan capek juga nyiapin acara itu, plus baru pulang dari DT, kerja lembur.. agak kurang tidur. yang kepilih akirnya calon yang lain. dari awal proses kongres sampai pemilihan president waktu itu terekam dengan baik dokumentasinya. saya masih pegang CD Video-nya sampai sekarang. .senyum-senyum melihat diri sendiri dan alotnya musyawarah, dan kejadian2 lucu plus mengharukan..mungkin hanya kongres ini yang terdokumentasi dengan baik sampai ada videonya. setidaknya sampai kepengurusan saya waktu itu, entah kalau yang sekarang seperti apa.

Setelah itu, saya ditawari jadi Direktur Organizational.. mungkin karena saya dinilai orang yang organisatoris, dan sebelumnya pengalaman mengurus internal. maka saya diamanahi disitu. membawahi urusan Internal Affair, Eksternal Affair dan PIC (P… Information Centre) P nya apa ya kok lupa, jigana Publication..😀

Sekilas ini bagian yang sangat vital bagi organisasi, bagaimana membangun kepengurusan yang solid, membina kerjasama dan hubungan yang baik dengan pihak ke-3/ stakeholder, dan membangun sistem informasi dan komunikasi yang baik.

Di Fase ini, saya baru mulai merasakan sedikit “perjuangan” itu dalam ekonomi syariah..terutama setelah banyak berhubungan dengan pihak ketiga, berhubungan dengan jaringan organisasi/pihak2 yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi syariah, baik level kampus, kota, provinsi sampai tingkat nasional. Dan di fase ini juga  saya mulai terjun langsung memperkenalkan, mensosialisasikan apa itu ekonomi syariah ke masyarakat dan lingkungan sekitar.

di fase ini saya mulai lebih mengenal FOSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) , MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), ASBISINDO (Asosiasi Bank Syariah Indonesia), ABSINDO (Asosiasi BMT Seluruh Indonesia), PKES (Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah), PINBUK  (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil), dan Badan Usaha Syariah dari Bank Syariah, BPR Syariah, BMT, Koperasi Syariah, sampai Direktorat Perbankan Syariah BI..

di fase ini juga saya turun ke masyarakat, mulai dari anak sekolahan SMA lewat kegiatan Sharia Go To School, (SRS), P3ES (Program Percontohan dan Pemasyarakatan Ekonomi Syariah), sampai ke Desa melalui Sharia Goes To Village.. (SRV), masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, dan perlu tindak lanjut yang berbeda pula.

Dan karena posisi itulah saya mulai berhubungan dengan FOSSEI bersama wakil Perguruan Tinggi lainnya se Indonesia, dan terus terang di Level Jawa Barat tidak sesolid wilayah lainnya di Indonesia, padahal sebetulnya potensi Jabar ini besar dalam hal pengembangan ekonomi syariah. Pada Musyawarah Nasional FoSSEI di Universitas Muhammadiyah Surakarta di Surakarta/Solo, saya pun dipercaya oleh wakil KSEI yang dari Jawa Barat, waktu itu hanya ada 4 KSEI dari Jawa Barat : dari Unpad, Uniku Kuningan, STEI IMEIs Cirebon dan UPI/Unisba. Miris.. melihat kondisi tersebut,  dan terpancing juga oleh semangat di wilayah lain, akhirnya saya terima amanah itu, ingin membuktikan kalau di Jawa Barat juga bisa.. jiwa muda keluar..

Sepulang dari itu aktifitas mulai menggunung.. yang jadi korban adalah akademisku..yang stabil IPKnya gak naik, gak turun, stabil di level nanggung. Terjadi Trade-Off.. ini tidak baik sebetulnya. Peran pokok Mahasiswa mestinya tetap yang utama, karena itu pegangan masa depan kita, mestinya bisa seimbang, tidak ada yang dikorbankan, Keduanya penting, tapi porsinya harus diatur biar seimbang. disini saya kurang berhasil.. meskipun akhirnya lulus dengan IPK sesuai target, tapi targetnya target rata-rata aja..target pragmatis kalau akademis. Lulus maksimal 4 tahun dengan IPK minimal 3,00 !!😀

Oiya di fase ini juga akhirnya saya mulai merintis berdirinya BMT di kampus, namanya BMT ISEG bersama beberapa teman saya, sempat seru juga perdebatan gara-gara BMT ini, sampai harus diakhiri dengan Voting dari 5 orang karena perbedaan konsep. akhirnya 3 suara ada di konsepku, dan itu yang berjalan sampai sekarang.. sudah 5 tahun berjalan. menarik juga untuk diceritakan nanti.

Disinilah puncak kesibukan selama menjadi mahasiswa, kurun waktu 2006-2007, ya jadi Direktur ISEG, Ya jadi Koreg FOSSEI, Pendamping Asrama Etos, Kabid Usaha KKMB, Permais, KSI.. tambah lagi BMT ISEG..untungnya di DT sudah tidak lagi..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s