Auto Kritik Untuk Bupati Manggarai


Jujur saja, saya tersinggung dan tidak terima dengan apa yang disampaikan Pak Bupati beberapa jam yang lalu diacara “Pemberkatan Kantor Bank BRI Ruteng sekaligus Perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama”, dihadapan kurang lebih 1000 orang undangan dari unsur Muspida, Rohaniawan, Panti Asuhan, dan segenap nasabah dan pekerja Bank BRI. Apa yang Bapak sampaikan selain ada yang tidak benar, juga tidak pada tempatnya.

Apakah itu?

1. Masalah Protokoler Acara

Betul pak, kita ini BUMN, perusahaan milik negara, bisa dikatakan bagian dari pemerintah. Tapi bapak harus ingat juga kalau kita sudah Go Public. Kita perusahaan Terbuka (Tbk), sebagian milik masyarakat. Jadi tidak sepenuhnya kita itu bagian dari pemerintahan yang harus  terikat dengan protokoler pemerintahan dalam melakukan kegiatan.

Jadi terkait acara tadi, kalau bapak keberatan dengan susunan acara, keberatan mengenai pembawa acara (MC) yang menurut bapak tidak sesuai dengan protokoler pemerintahan, kenapa bapak tidak sampaikan sebelumnya?? bapak dan ajudan bapak tidak perlu sampai marah-marah. Karena kita sudah sampaikan sebelumnya. Dan panitia pun sudah berkomunikasi dan berkoordinasi sebelumnya. Jadi kami anggap sudah sepengetahuan bapak, dan bapak sepakat dengan itu. Menurut saya tidak ada kaitannya dengan kewajiban kami sebagai BUMN untuk menjalankan protokoler pemerintahan. Karena kita tidak terikat kewajiban itu.

2. Pernyataan : ” Bank BRI Menyembunyikan Dana CSR”

Pernyataan ini lebih pedas lagi, bagaimana mungkin kita menyembunyikan dana CSR?? dana yang memang wajib kita sisihkan dari laba, dan betul ini adalah amanah dari Undang-Undang, dan kita wajib menyalurkannya. Bapak bisa cek langsung laporannya ada, setiap tahun kita melaporkannya. Kita menyalurkannya. Malah itu di audit dari Kantor Akuntan Publik yang bonafid. Belum dari Bank Indonesia, BPK dan pengawasan lainnya.

Di lingkungan Kabupaten Manggarai sendiri, bapak bisa cek langsung. Atau jangan jauh-jauh, dihadapan bapak sendiri di acara tadi kita menyalurkan dana CSR itu ke beberapa panti asuhan berupa beras sekian ton, dana sekian rupiah, karpet untuk mesjid, fasilitas umum berupa kursi untuk masyarakat. Bapak saksikan sendiri tadi.Itu masyarakat bapak sendiri. Sebelumnya sudah seringkali kita mengadakan pengobatan gratis, baik di kantor maupun kita datang sendiri ke kecamatan/desa, seperti ke Mano beberapa bulan yang lalu, menanam pohon di Labuan Bajo dan Borong. Kita juga sudah menyalurkan sekian milyar kredit program dan kemitraan yang merupakan bagian dari dana PKBL yang wajib kita sisihkan juga dari laba untuk disalurkan ke masyarakat, khususnya kepada kelompok tani, peternak sampai KUD-KUD.

Kita memang belum menyalurkan dana CSR secara langsung melalui Pemda, dalam hal ini kepada Bapak langsung. Baik berupa uang maupun barang, karena memang bukan sebuah kewajiban bagi kami untuk menyalurkan dana tersebut melalui Pemda. Walaupun memungkinkan. Yang diutamakan tentu masyarakat umum/publik, sebagai pemilik sebagian dari perusahaan ini. Dan itu sudah kami salurkan ke masyarakat yang ada diwilayah Bapak.

Kalau memang Bapak menginginkan ada sebagian dana CSR disalurkan melalu Pemda, sesuai permintaan Bapak berupa Barang/fasilitas umum seperti Mesin Bor yang bapak terima dari Bank NTT yang notabene milik pemda sendiri. Tentunya Bapak bisa sampaikan baik-baik, bapak bisa ajukan. Ada prosedurnya, dan itu mungkin kita usahakan untuk direalisasi. 

3. Pernyataan : “Bank BRI berlindung dibalik Bantuan-bantuan sosial” dalam kata lain menurut saya gak jauh beda dengan pernyataan ” Serigala Berbulu Domba”

Kita sama sekali tidak mungkin seperti itu, kita tidak mungkin memanfaatkan mereka hanya untuk mengejar image belaka, atau bersembunyi dibalik bantuan-bantuan sosial untuk mendapatkan keuntungan semata. Apakah bapak tidak membayangkan bagaimana perasaan mereka mendengar pernyataan bapak tersebut? pada kenyataannya itulah yang mereka butuhkan Pak, yang mungkin tidak mereka dapatkan dari pemerintah. Bapak bisa menyimak apa yang disampaikan Romo tadi malam, bagaimana manfaat yang dirasakan setelah kurang lebih 30 tahun sudah kita ada di Manggarai bagi masyarakat, khususnya para Rohaniawan, dan mungkin bapak juga bisa tanya langsung kepada masyarakat lainnya di desa-desa. Pada prinsipnya kita saling menguntungkan saja pak, betul kita mengambil keuntungan dari masyarakat, tapi masyarakat juga diuntungkan dengan kehadiran kita. Baik yang sudah menjadi nasabah, maupun yang belum jadi nasabah.

Terakhir, kalau bapak berpikir lebih jauh lagi.Pada saat bapak mengatakan kita ini BUMN, mestinya bapak juga ingat berarti kita menjadi sumber pemasukan untuk APBN. Dan kalau bapak ingat APBN, disitu ada alokasi dana untuk daerah, ada subsidi untuk Pemda, apalagi Pemda Manggarai dan Pemda-pemda di wilayah timur ini yang dana subsidi pusatnya masih cukup tinggi. Jadi secara tidak langsung, sebetulnya Pemda pun sudah menerima manfaatnya. Dari mana coba dana-dana proyek yang besar-besar itu kalau bukan dari Dana APBN?

Jadi kesimpulannya, saya pikir tadi tidak perlu Bapak bersikap seperti itu dan memberikan pernyataan-pernyataan seperti itu. Tujuan kita sama, bagaimana memajukan kesejahteraan masyarakat disini. Membangun daerah, memajukan wilayah Bapak. Jadi baiknya kita menjalin komunikasi dan kerjasama yang baik, apalagi kita sama-sama bagian dari pemerintah. Mestinya kompak pak. Tadi juga tidak pada tempatnya kalau bapak mau mengkritik kami, itu lebih ke acara keagamaan dan sosial. Yang hadir juga kebanyakan  Rohaniawan, dan anak-anak panti asuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s