Never Ending (Bad) Stories??


Mungkin saat ini masih terlihat sesuatu yang tidak baik, dan begitulah yang tampak di penglihatan saya terhadap semua yang terjadi saat ini. Demi Allah, bukan saya tidak bersyukur atau mengingkari setiap detail kebaikan dan kenikmatan yang ada dan saya rasakan dan nikmati saat ini. Selalu ada sebab dan akibat, kebaikan akan berbuah kebaikan, keburukan pun demikian. Keburukan akan melahirkan keburukan. Ini sederhananya.

Sehingga, saya sangat setuju sekali jikalau masalah terbesar dalam hidup kita ini ada ditangan kita sendiri. Bukan akibat dari sebab dari orang lain atau penyebab lainnya diluar diri kita. Kalaupun ada kejadian buruk yang datang dari orang lain atau lingkungan di luar, itu hanya awalan, yang akan menentukan adalah sikap dan tindakan kita terhadapnya. Kalau kita merespon dengan baik, kebaikan pula yang akan kita dapatkan, meski terkadang tidak langsung, butuh waktu dan proses. Boleh jadi kita mengalami sakit, kekurangan, dan hal negatif lain. Itu adalah ujian, jika kita bisa menjawab ujian itu dengan baik, hasilnya pun jadi kebaikan buat kita sendiri.

Sederhana untuk ditulis, mudah untuk diucapkan, tapi tidak semudah itu untuk dilakukan. Bagaimana kita bisa merespon dengan baik sikap orang lain yang tidak baik kepada kita itu tidak mudah. Ketika kita diejek, dijelek-jelekan saja, hasrat untuk membalas dengan hal serupa itu kadang begitu kuatnya, apalagi didukung kondisi kita yang sedang kurang baik secara emosi. Serta merta maunya membalas. Tapi ingat, kalau kita membalas dengan hal serupa, kita akan mendapatkan hal yg serupa juga kedepannya.

Sekilas saya renungi, memang yang paling kuat untuk meredam semua itu adalah keimanan kita, keyakinan kita. Keyakinan apa? keyakinan kepada Allah, iman kita kepada Allah. Kalau Allah sudah kuat ada dalam hati kita berwujud keimanan, apapun yang terjadi kita tidak akan termakan pengaruh olehnya. Apapun yang terjadi kembalikan ke Allah. Ketika orang mengejek kita dengan sesuatu yang buruk, ketika kita ingat Allah, itu tak seberapa, kalau ejekan itu memang betul, itu jadi bahan koreksi untuk kita bisa lebih baik, kita bisa meresponnya dengan senyuman, ketenangan, bahkan berterima kasih sudah diingatkan, karena itu yang Allah kehendaki.

Kalau ejekannya tidak betul pun tetap tenang, kita respon dengan baik pula, kita sampaikan baik-baik kalau yang dikatakan tidak benar, kita jelaskan kebenarannya. Itu jadi ladang kesabaran kita, itu juga yang Allah kehendaki. Kalau kita sudah memiliki kontrol seperti ini, inilah yang dikehendaki Allah, apa-apa ingat Allah, apa yang Allah ridloi atau kehendaki dari setiap respon kita terhadap segala sesuatu, itu semestinya yang kita lakukan. Sehingga memang ini berbanding lurus dengan ilmu dan pemahaman kita tentang Allah, kedekatan dan kecintaan kita kepada  Allah. Apa-apa yang Allah kehendaki harus kita pahami betul, yang tidak juga demikian, kita harus tahu dan paham. supaya itulah yang dijadikan pedoman dalam setiap sikap dan tindakan kita.

Sekali lagi ini dalam prakteknya tidak semudah ditulis atau diucapkan. Yang menulis pun masih jauh dari itu. Belum baik dalam merespon setiap kejadian. Masih hawa nafsu saja yang mendominasi, bukan ilmu dan pemahaman yg baik, keimanan dan kecintaan yang baik yang menyatu dalam sikap dan perilaku. Satunya kata dan perbuatan masih harus terus dibuktikan.

Sehingga jangan salahkan siapapun kalau ada kejadian yang tidak kita harapkan terjadi pada diri kita. kalaupun betul itu kesalahan orang lain, janganlah kita ikut melakukan sesuatu yang salah juga pada orang ybs. Yakinlah, setiap kebaikan/keburukan akan ada balasannya. Serahkan sama Allah saja, kitanya tetap bersikap dan bertindak sesuai kehendak Allah, tetap dalam kebaikan. Tidak usah dendam, apalagi membalasnya. Dan betul, tempat bergantung hanya kepada Allah, jangan kepada manusia. Iya kita makhluk sosial, tapi jangan terlalu bergantung sepenuhnya. Jangan ketergantungan kita kepada makhluk melebihi ketergantungan kepada pencipta makhluk, karena kalau melebihi, ketika kita kecewa, kita kecewa berat, dan tidak ada sandaran terakhir lagi.Ujungnya patah hati, sakit hati, stress, bahkan mungkin gila.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s