Titik Akhir


 

Waktu itu jumat malam, hari ke 24 di bulan Februari. Diluar dugaan tiba-tiba alif dihubungi oleh seseorang yang begitu diharapkannya menjadi pendamping hidupnya, setelah sebelumnya, selang 6 hari sebelumnya, wanita yang diidam-idamkannya itu, Aisyah namanya,  sudah menyatakan keputusannya untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Alif menuju jenjang pernikahan.

Tidak ada alasan untuk menolak Alif bagi Aisyah, setidaknya Alif dinilainya sudah siap untuk menikah, hanya saja masalah perasaan yang belum dirasakan Aisyah kepada Alif, perasaan cinta, sayang atau setidaknya suka, membuatnya kagum, impressing..dst  yang dirasakannya sulit. Bagaimanapun perasaan ini memang sangat penting, tanpa rasa cinta, sayang.. apalah artinya sebuah pernikahan. Bak sayur tanpa garam.. hambar rasanya.Justru dasar pertama adalah itu, meskipun bagi sebagian orang masalah perasaan bisa belakangan, ngikut, bisa disesuaikan, bisa ditumbuhkan, ketika satu sama lain ikhlas lillahi
ta’ala.. saling menerima apa adanya.

Memang bukan tanpa alasan kenapa itu terjadi, Aisyah sebelumnya pernah memiliki pengalaman pahit, pernah menjalin hubungan dengan pria yang lain yang hampir menuju pernikahan, seorang pria yang begitu
dicintainya, hanya karena ada suatu masalah terkait keluarga dan hal lainnya, batalah hubungan tersebut, tentunya ini menyisakan luka hati yang cukup dalam, patah hati yang tidak mudah diobati, apalagi dilupakan begitu saja. Apalagi dengan orang yang begitu dicintainya,sosok yang diinginkannya.

Itulah mengapa Aisyah tidak mudah menerima Alif, setidaknya butuh waktu yang tidak sebentar, mengingat hubungan dengan pria sebelumnya juga tidak sebentar, apalagi sosoknya berbeda dengan sosok pria sebelumnya yang dicintainya, atau berbeda dengan tipe pria yang diharapkannya. Namun demikian Aisyah tidak begitu saja menolak, dia juga berupaya menjalani prosesnya dengan Alif, dengan harapan hidupnya
bisa lebih baik.

Bukan Alif tidak memiliki masa lalu yang sama dengan Aisyah, bahkan masa lalunya Alif lebih parah lagi, hanya saja karena Pria, secara perasaan tidak sekuat perempuan seperti Aisyah, meski memiliki masa lalu yang pahit juga, tidak membuat Alif sulit menerima yang lain atau jatuh cinta lagi. Ah dasar laki-laki.. begitulah Fitrahnya.

Jumat malam itu, setelah 6 hari sebelumnya Aisyah menyampaikan keputusannya untuk tidak meneruskan proses hubungan dengan Alif, ini kali ke-2 atau ke-3 sebetulnya, meskipun secara tidak langsung menyampaikan penolakannya.Maju mundur, labil hubungannya. Beberapa bulan sebelumnya Alif sebetulnya sudah tidak begitu berharap, karena sudah menganggap Aisyah memberikan jawaban tidak, waktu itu Alif kembali mengingat masa lalunya yang pahit, dan malah menemui  lagi seseorang di masa lalunya yang berakhir pahit, niat hati memperbaiki keadaan supaya lebih baik, pertemuan itu malah membawa petaka, dan sampai kabarnya ke Aisyah, tanpa sepengetahuan Alif, Aisyah sebetulnya sudah hampir menerima Alif
pada saat itu, hanya saja Alif tidak tahu itu, andai saja Alif tahu, dia tidak mungkin kembali lagi ke masa lalunya yang pahit, karena kejadian itu Aisyah pun kecewa berat dengan Alif dan tidak jadi menerima waktu itu, datang masalah baru, dan semakin larut.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Aisyah tiba-tiba menghubungi alif, meminta tolong seperti beberapa kali sebelumnya untuk membayarkan tagihan pulsa selulernya via ATM, dimintai tolong begitu, Alif tentu merasa senang sekali, seketika diminta, seketika pula langsung dilakukan. Tidak butuh waktu lama, walaupun seandainya lokasi ATM pun letaknya jauh di jalan mana, ditengah hujan deras sekalipun, Alif pasti akan melakukannya.

Masih pada jumat malam itu, obrolan sampai kepada keinginan Aisyah untuk mencari laptop baru, kebetulan Alif baru saja mengambil netbooknya yang baru di service, dan memang berniat untuk menjualnya. Maka Alif pun menawarkannya kepada Aisyah dengan maksud sedikit membantunya, bisa dapat harga jauh lebih murah, dengan kualitas yg masih bagus, sampai dikasih bonus modem, mouse, dan sudah include windows original plus aplikasi standar lainnya yang sudah siap pakai. Tidak hanya itu, besok harinya langsung diantar. Meski Alif dan Aisyah berada di lain kota, meski di besok paginya Alif  akan melakukan perjalanan panjang dalam rangka kerja, Alif masih menyempatkan mengantar netbook tersebut, tidak masalah jarak dan waktu karena di luar kota, cape pun tak dirasa, yang penting bisa bertemu dan mengantar netbook tersebut.

Hampir saja di Sabtu malam itu, Alif tidak mendapatkan travel untuk kembali ke rumahnya. Namun karena niat baik, melakukan kebaikan, selalu saja ada jalan, dan tidak sulit mendapatkannya, padahal sama sekali mendadak mencari travel waktu itu. Sekitar sejam lebih sebelum tengah malam sampailah di rumah, keberangkatan esok paginya tidak terganggu dan Masih ada waktu untuk beristirahat. Minggu malam, Aisyah berubah pikiran, menyampaikan keinginannya untuk meneruskan proses hubungan dengan Alif, Alif begitu bersyukur mendapat kabar tersebut dan langsung menentukan waktu kapan bisa ketemu lagi untuk itu, namun rasa bahagia itu tidak lama.

Senin siang esok harinya ada kabar pahit lagi, karena Alif sempat menemui masa lalunya lagi untuk ke-2 kalinya setelah seminggu sebelumnya Aisyah menolaknya, ini kembali menjadi petaka untuk ke-2 kalinya. Seketika buyar lagi, dan lebih parah lagi, mungkin kali ini penolakannya yang terakhir, yang tidak akan berubah lagi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s