The Spirit Of Java


Kali ini saya akan bercerita mengenai Kota Solo, Orang sering memplesetkan jadi Oslo seperti ibu kota Norwegia, tidak jauh berbeda ketika orang sering mengandengkan kota Singaparna menjadi Singapura, Ciamis menjadi Paris (Parapatan Ciamis), Garut menjadi Turki (Turunan Kidul), lebih santer lagi Cikaso jadi Chicago, sampai-sampai yang namanya Lembur Awi di Ciparay Bandung Selatan sana digadang-gadang jadi LA sama seperti Lenteng Agung, sampai Kota Lamongan juga disebut LA (Lamongan Asli).. ah aya-aya wae..

Kota Solo disebut juga Kota Surakarta, saya belum tahu pasti kenapa ada dua nama. Kota lain yang serupa adalah Kota Makassar yang memiliki nama lain Kota Ujung Pandang. Saya pernah mendengar bahwa sebetulnya, sebutan Solo itu lebih ditujukan kepada masyarakatnya, orangnya, Solo melekat pada orangnya, Orang Solo, sedangkan Surakarta melekat pada kotanya Kota Surakarta, berkaitan juga dengan nama Keraton Surakarta. Sama halnya Makassar melekat pada orangnya, dan Ujung Pandang untuk kotanya. Namun bagaimanapun orang banyak sudah menganggapnya sama saja nama sebuah kota.

Pertama kali saya mengunjungi Kota Solo kurang lebih sekitar tahun 2004, bagian dari rangkaian perjalanan Bogor-Depok-Jakarta-Bandung-Yogya-Solo-Tawangmangu bersama beberapa teman-teman dari UI, UGM, dan ITS yang tergabung dalam ikatan ETOSER, penerima Beastudi Etos dari Dompet Dhuafa.

Waktu itu kami berangkat ke Solo dari Yogya menggunakan kereta Pramex yang namanya hampir sama dengan obat sakit kepala itu, Pramex singkatan dari Prambanan Express, berangkat dari Stasiun Tugu pagi-pagi sekitar jam 6. Diluar dugaan ternyata kita tidak dapat tempat duduk, kereta cukup penuh sesak, dan kami pun akhirnya gelar koran, duduk lesehan dibawah.. itulah pengalaman pertama saya naek kereta lesehan dibawah beralaskan koran, perjalanan Yogya-Solo sekitar 1 Jam, berakhir di Stasiun Solo-Balapan. Dari stasiun kami sambung angkot menuju terminal untuk sambung lagi menggunakan Bis menuju Tawangmangu, salah satu daerah di Solo yang berada di pegunungan. Jalannya berkulak-kelok menanjak turun ekstrim sekitar 45 derajat, cukup menguji adrenalin. Berkali-kali saya menahan nafas dan menghela nafas,,liat kiri kanan jurang, cukup horor juga. Agak mirip dengan jalan di Manggarai Flores, jalan Transflores.

Namun sesampainya di Tawangmangu, rasanya lelahnya perjalanan terbayar sudah. Udara yang sejuk, bersih, pemandangan yang asri, daerahnya masih desa banget. Rumah salah satu teman yang kami singgahi juga masih rumah asli jawa, arsitektur lama dari jama dahulu kala. Menentramkan rasanya. Nikmatnya minum teh, nikmatnya makan, nyenyaknya kami tidur.

Besoknya sehabis shalat Shubuh kami langsung jalan kaki menuju Air Terjun Grojokan Sewu, salah satu tujuan wisata yang ada disana. Sesampai disana karena masih pagi belum ada yang jaga tiket, kami pun masuk begitu saja tanpa beli tiket, kami jalan sampai di Air Terjun, disana terdapat kolam renang juga, beberapa dari kami pun termasuk saya mandi dan berenang disana, segar sekali. Di sekeliling juga masih banyak terdapat kera-kera berkeliaran.

Waktu pertama kali itu Kota Solo hanya disinggahi, karena tujuan utamanya memang ke Tawangmangu.

Kali kedua adalah ketika ada kegiatan FoSSEI di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sekitar tahun 2006. Hampir saja saya ketinggalan kereta waktu itu dari Stasiun Bandung karena ada kegiatan di SMAku SMAN 8 yang agak molor. Untung masih ada sepeda motor, agak ngebut dari Buah Batu menuju Stasiun. Pas sekali setibanya di gerbang Stasiun pas dengan panggilan.. tandanya kereta akan segera berangkat. Setengah berlari saya pun masuk, temen saya Abdul Kahar, sudah menunggu disana. Fiuh..hampir saja

Kami berangkat sore hari, naik kereta Lodaya Malam. Tiba di Solo Balapan Dini hari sekitar jam 2 dini hari. Waktu itu tepat pas Final Piala Dunia 2006, Italia vs Perancis. Sesampainya disana kami mencari tempat makan yang ada TV-nya. Dan tidak jauh dari stasiun kita menemukannya, ditemani teh manis dan sedikit cemilan bersama yang punya tempat maka kita nonton bareng.. disanalah saya menyaksikan Zidane menanduk dada Materazi yang berakibat kartu merah dan Perancis harus mengakui keunggulan Italia sebagai jawara sepakbola se jagat raya waktu itu..

Azan shubuh pun berkumandang, kami menelusuri jalanan sekitar stasiun mencari mesjid terdekat untuk menunaikan shalat shubuh sekaligus sedikit bersih-bersih. Dan tidak dapat terelakan, kita sempet pulas juga di mesjid karena kecapaianšŸ˜€ setelah bersih-bersih, kami cari sarapan nasi kucing pinggir jalan sambil tanya-tanya jalur bis menuju UMS, meningat masih sangat pagi, kami tidak mau merepotkan panitia UMS. sekalian kami suka berpetualang, dan sampailah di UMS, panitia pun sedikit kaget, loh kenapa tidak minta jemput saja.. ah tak mengapa, tinggal antar saja kami ke penginapannya, mengingat fisik masih capek

Oh iya, waktu itu juga Gunung Merapi sedang batuk-batuk, sesekali terlihat pijaran api lahar di puncaknya. jelas sekali terlihat di penginapan tempat kami menginap, di sebuah Wisma Haji di kota Solo.Ā 3 Malam saya disana, waktu itulah saya mendapat amanah menjadi pengurus FoSSEI Jawa Barat sebagai Koordinator. Karena acaranya adalah acara Musyawarah Nasional, masanya pergantian kepengurusan.

Setelah rangkaian acara Seminar, Training, Musyawarah dan Ramah Tamah.. kami pun akhirnya sempat jalan-jalan di sekitar kota Solo, diperkenalkan oleh panitia. Kami mengunjungi Keraton Surakarta berupa Museum yang masih kelihatan sakral, banyak benda-benda pusaka dan senjata yang masih dipelihara, sampai ada cerita-cerita mistisnya. Ah sayang sekali momen ini tidak terabadikan, tidak ada sisa foto satupun. setelah ke keraton kami pun diajak langsung belanja saja ke Pasar Klewer, pasar yang terkenal sekali di Kota Solo yang konon nilai transaksinya milyaran tiap hari waktu itu.Ā Di dekat pasar sempat mampir ke Mesjid Agungnya, kemudian jalan sedikit ke Mal yang ada disana membeli beberapa makanan khas dan baju batik sebagai oleh-oleh.

Besok paginya langsung acara penutupan, siang kami sudah berpamitan pulang ke tempat asalnya masing-masing. Sedikit berbeda, saya tidak langsung pulang hari itu. Saya pulang besok paginya, saya hendak mampir ke teman saya yang kuliah di Jurusan Manajemen dan Kedokteran UNS, Universitas Negeri Sebelas Maret ya bukanĀ Universitas Negeri Solo/Surakarta, satu-satunya PTN yang mencantumkan kata Negeri di nama Universitasnya, mungkin pengen bener-bener diakui status negerinya :p

Saya pun mampir ke Asrama Mahasiswanya dimana dia tinggal, sebuah asrama yang nyaman dan bisa dibilang Islami, yang tinggal disana sehari-harinya teratur dan penuh dengan kegiatan positif terutama kegiatan agama. semalam saya disana ngobrol dan sempat jalan-jalan pake Vespanya temen saya, icip-icip nasi kucing yang murah meriah itu yang menjadi makanan utama para mahasiswa pendatang..hingga besok paginya saya pulang sendirian dari Solo-Bandung. Perjalanan sendirian pertama naek kereta dan paling jauh

Kali ketiga dan keempat adalah setelah saya lulus kuliah dan bekerja di Jakarta, tentu saja dalam rangka urusan pekerjaan. Waktu itu urus BPR Syariah yang akan buka cabang baru di Kota Yogya dan Semarang. Karena klien calon Direksinya pada ngumpul di Solo, maka saya ke Solo untuk bertemu mereka. Kali ketiga berangkat naik kereta dari Stasiun Gambir Jakarta pagi hari, sampai Solo menjelang malam, menginap sendirian di salah satu hotel melati sekitar stasiun Solo-Balapan. Besoknya baru ke Hotel Sunan, salah satu hotel besar di Solo tempat pertemuan berlangsung. Pulangnya naik pesawat, pertama kali naik Garuda yang dikenal mahal itu. Hampir saja saya terlambat tertinggal pesawat, karena kesulitan mencari taxi di bilangan pasar klewer, diluar biasanya, gak keliatan satu pun lewat di jalan, hp sy mati waktu itu kehabisan batere.

Saya sampai mondar mandir, jalan agak jauh, nyebrang sana sini, biar bisa nyegat taxi lewat, eh tak satu pun nongol..sampai akhirnya ketemu juga, setelah jalan jauh sekali, maklum tidak ada kendaraan umum lain yang bisa langsung ke Bandara, dan yang namanya Bandara Adi Sumarmo itu jauh di pinggiran kota solo.. lebih dari sejam perjalanan, ngebutlah akhirnya naik taxi, dan alhamdulillah kekejar. Naik pesawat Garuda emang lebih nyaman, sebanding dengan harganya. Tapi tetep saja, karena naek pesawat itu gak lama-lama amat, yang penting selamat aja, tepat waktu dan pas di dompet, gak apa-apa tempat duduk agak sempit, wong saya kurus, dan gak apa-apa gak dapet minuman jus dan snack, da gak lama juga.

Kali ke empat mengunjungi Solo melalui Jogja pake pesawat, sambung Pramex. Masih dalam urusan kerjaan yang sama dan tempat yang sama. Namun pulang dengan pesawat yang berbeda, tidak lagi nyoba Garuda, kembali ke pesawat umum saja..bisa disimpan selisih harganya di kantong. Oh iya, waktu itu Bandara Adi Sumarmo masih bangunan baru jadi, bersih sekali, dan bagus. Meski waktu itu masih sepi sekali..

Itulah sedikit cerita pengalaman saya di Oslo alias Solo, The Spirit Of Java.. itu slogan kotanya. Dan satu lagi tentang Solo, ternyata dari keluarga ibu ada darah solonya, Kakeknya nenek saya ternyata berasal dari Solo, namun saya tidak tahu detail ceritanya kenapa kakeknya nenek itu sampai merantau ke Bandung dan menikahi neneknya nenek saya, kabarnya setelah itu tidak pernah kembali ke Solo lagi, dan tidak diketahui sanak keluarganya di Solo itu siapa aja dan dimana. Hanya sampai disitu saja kabarnya, namun yang pasti dalam darah saya mengalir darah solo juga, mengalir darah The Spirit Of Ā Java..yeah…šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s