Gubuk Rumahku


Dalam sehari-hari kerja, kalau saya menemukan, memasuki sebuah rumah di manggarai sini, baik debitur atau yang terkait dengan debitur seperti pemilik agunan, saya selalu teringat rumahku dulu, terutama dengan bangunan rumah yang sangat sederhana, terbuat dari kayu, berdinding kayu atau belahan bambu, beralaskan tanah, langit langit tanpa plafon, beratap seng. Yang khas disini, atap seng ini sifatnya lazim,rumah bagus pun atapnya sama.  yang agak miris rasanya kalau sudah kondisi rumah yang sangat sederhana itu, mereka harus berbagi tempat dengan hewan peliharaan mereka seperti ayam, anjing dan babi, tinggal seatap.

Dalam hati, rumahku dulu juga hampir sama. Sebuah rumah gubuk, rumah panggung khas orang sunda. Kalau anda main-main ke daerah pinggiran kota Bandung seperti daerah Banjaran, atau Ciwidey daerah kampungya anda masih bisa menemukannya. Berbahan dasar kayu, fondasinya hanya sebuah batu besar yang menyangga setiap sudut tiang kayu, beralaskan belahan bambu dengan dibuat kolong dibawahnya, sehingga berupa rumah panggung. Kolong bawah rumah ini meskipun dulu tidak dikhususkan menjadi kandang ternak, yang namanya ayam dan bebek suka masuk kedalamnya, bahkan bebek tetangga pernah numpang bertelur di kolong rumah saya dulu.

Alas rumah ini, karena terbuat dari bambu dan panggung, kalau kita berjalan diatasnya pasti ada bunyinya, tidak berlebihan disebut reyot, sehingga seisi rumah akan tahu kalau ada yang bergerak jalan. Pintu rumah juga dari kayu, tidak memakai kunci yang lazim digunakan sekarang, tapi pake kayu lagi yang cukup dipaku disamping pintu, tinggal diputar saja untuk mengganjal dari dalam, paling banter kunci gembok kecil yang dipasang dari luar, itupun kalau betul-betul lagi bepergian jauh dan agak lama.

Dinding rumah adalah bilik bambu, sebuah anyaman bambu. Biasanya dicat putih, tapi tidak menggunakan cat biasa, yang digunakan adalah batu apu yang dilarutkan dengan air, di toko besi dulu masih dijual. plafon atas juga sama bilik bambu yang dicat putih, sedangkan atapnya adalah genteng biasa. Rumah hanya memiliki 4 ruangan, ruang tengah, kamar ada 2, dan dapur. Dapurnya sebagian beralas tanah, tempat hawu/tungku untuk memasak beralaskan tanah tentunya. Disini sebetulnya agak rawan kebakaran, karena kalau memasak menggunakan kayu bakar yang sangat mungkin merambat apinya ke dinding rumah yang mudah sekali terbakar.

Itu sedikit gambaran rumahku dulu, rumah gubuk reyot. Sampai saya SMP saya tinggal di rumah seperti itu, jeleknya saya, dulu saya termasuk anak yang minder dengan kondisi seperti itu, malu rasanya memiliki rumah seperti itu. Malu rasanya kalau teman-teman di sekolah tahu rumah saya, tahu saya miskin, tak punya apa-apa. Sehingga keitung jari teman sekolah yang tahu betul siapa saya, dan tahu rumah saya waktu itu, dan sampai sekarang juga. Tidak banyak yang tahu dimana rumah saya, tidak banyak yang pernah mampir singgah ke rumah saya. Kalau pas kuliah saya masih tolerir karena memang tidak tinggal lagi di rumah, saya tinggal di asrama sampai saya lulus kuliah kemudian bekerja di Jakarta. Sehingga kalau ada teman yang mau main ke tempat saya, datangnya ke asrama, kalau ini sudah lumayan tidak sedikit yang berkunjung, bahkan sampai ikut menginap, bahkan sampai teman-teman yang dari luar kota, pernah nginep di tempat saya di asrama.Sehingga tak satupun malah teman kuliah yang tahu rumah saya.. parah banget >__< ada sih yang cuman tahu sampai gang masuknya doang, dianya yang gak bisa mampir.-

Jadi praktis yang tahu rumah saya kalau teman di sekolah, paling banyak tentu teman SD, itupun gak semuanya tahu, teman ngaji, temen smp.. keitung jari, temen sma agak lebih banyak, tapi masih keitung jari >___< temen kuliah 0 sama sekali, haduh… maaf ya teman-teman.. ini tidak boleh terus-terusan begini, mestinya seneng dikunjungin orang, disilaturahimin orang, bagaimanapun kondisi kita, toh memang seperti itu keadaannya, seperti itu kenyataannya. Kenapa harus minder? kenapa seakan-akan tidak mau menerima kenyataan?? Astaghfirullahal azhiiim…

Jadi weh curhat lagi, tak apa lah, biar semua tahu, biar semua bisa mengambil hikmahnya, jadi sesuatu yang baik. Janganlah jadi orang seperti saya, yang pernah minder, kurang bersyukur, malu yang salah, malu yang tidak pada tempatnya..itu benih-benih ketidakjujuran, kemunafikan, jangan lagi seperti itu..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s