Ke Lampung Timur,, demi sesuap nasi


Ada beberapa cerita yg agak unik dan tidak seperti biasanya, cerita pencarian kerja saya dulu, cari kerja baru sambil bekerja di tempat lama. Pekerjaan yang saya dapat sekarang pun prosesnya pun tidak biasa, paling tidak bagi saya pribadi. Tidak biasanya karena saya harus jauh-jauh datang ke Yogya untuk itu, mengikuti Job Fair salah satu kampus terbaik di Indonesia. Bahkan tidak cuma sekali jalan, sampai 3x saya bolak-balik utuk itu dalam 3 minggu berturut-turut, biaya jelas tidak murah, sudah masuk itungan juta rupiah, biaya termahal yg pernah dikeluarkan untuk nyari kerja, tidak ada refund biaya. Mungkin salah satunya karena itu saya akhirnya berhasil, ada kesungguhan, ada pengorbanan.

Yang lebih tidak biasa lagi, saya sampai nyasar ke Lampung Timur. Sebuah kabupaten di Lampung sana dimana disana terdapat semacam kawasan Industri, ada 1 perusahaan besar produsen penyedap rasa yang cukup terkenal di Indonesia berlokasi disana, 1 komplek besar, tentu saja menyatu dengan pabriknya disana.Perusahaan milik asing, milik perusahan Korea. Entah saya tidak begitu ingat bagaimana bisa saya bisa melamar kesana, kemungkinan besar iseng-iseng apply via internet, via email. Kemudian ditelepon, langsung diundang kesana untuk seleksi, akomodasi ditanggung dan diganti belakangan.

Awalnya saya ragu, dan gak mau datang. Tapi tiba-tiba rasa ingin tahu saya muncul dan jiwa petualang saya terangsang. Saya sanggupi untuk datang, meski permintaan saya untuk pake pesawat tidak diterima, ditanggungnya lewat darat, nyeberang pake kapal ferry saja. Baiklah, kebetulan saya masih ada jatah izin gak masuk kerja di tempat lama. 3 hari saya gak masuk kerja untuk itu, mumpung diongkosin, belum pernah juga ke lampung.

Dari jakarta saya berangkat pagi menuju siang, berangkat pake Bis Damri dari Stasiun Gambir. loh sejak kapan ke stasiun kok malah naik bis? bagi saya juga waktu itu baru tahu, kalau di stasiun gambir ada terminal bisnya. selain ke Lampung, ada juga ke bandara dan beberapa tujuan lainnya di pulau sumatera sana. Damri yg saya naiki juga langsung jurusannya ke Bandar Lampung.

Pas tengah hari sampai di pelabuhan merak, pengalaman kedua nyebrang pake kapal ferry setelah yang pertama menyebrang ke pulau bali. Pertama kali tahu pelabuhan merak, satu-satunya akses penghubung pulau jawa ke pulau sumatera kalau lewat darat, sekalinya cuaca buruk, tidak ada alternatif lain, orang rela antri berjam-jam, berhari-hari untuk menyebrang. kecuali Proyek Jembatan Selat Sunda bisa cepat rampung nanti, kalau jadi.

Di atas kapal saya sempat jalan-jalan, liat kelas ekonomi, duduk di kursi plastik yg keras dan terbatas, sebagian pada ngampar di bawah beralas koran, kelas ekonomi tentu tanpa AC, penjual asongan pun hilir mudik, sampe penjual obat pun sempat presentasikan produknya, mirip di pasar malam itu, atau pasar tumpah minggu pagi di gasibu, gerah, panas, berisik, dan mungkin rawan juga keamanannya.

pengalaman pertama shalat diatas kapal, shalat zuhur-ashar di jamak qashar. agak goyang-goyang dikit. berjamaah bersama penumpang lainnya. saya kemudian teruskan keliling, dari basement tempat parkir kendaraan yang sewaktu-waktu kemasukan air kalau ombak agak besar, lantai satu, lantai 2 sampai lantai 3 paling atas, pemandangannya juga cukup bagus, melihat daratan pulau jawa yang semakin kelihatan tenggelam, kemudian melihat daratan sumatera yang semakin muncul dari lautan.

ada pulau-pulau kecil juga yang di lewati, ada beberapa kapal yang papasan, sampai saya mendekat ke ujung kapal, teringat film titanic, menghadap ke lautan, melawan arus air, melawan arus angin, membuka tangan, merentangkan tangan ke samping, sambil berteriak… eh berlebihan, gak gitu banget lah, malu diliatin orang-orang.

Sampailah di pelabuhan Bakauheni, sekitar 2 jam perjalanan. kemudian lanjut perjalanan melintasi jalan lintas selatan sumatera, sempat mampir makan siang. Sampai di terminal sore, dari sana sambung angkot yang luar biasa, apa yang luar biasanya? berisik.. di tempat penumpang ditaruh speaker gede 2, setel musik keras-keras.. bisa bikin telinga pecah tuh.

Dari sana carilah hotel, hotel yang disarankan sebelumnya. sebuah hotel di pinggiran kota, bukan di kota Bandar Lampungnya, hotel kecil, agak menyeramkan, agak remeng-remeng, dan sepi… sempet nyesel, kenapa mau jadi datang, agak susah tidur malam itu, walaupun akhirnya tertidur.

Besok paginya setelah sarapan disarankan menunggu jemputan dipinggir suatu jalan, nanti ada bis perusahaan lewat, nanti naik itu ke pabrik. Di luar dugaan saya ketemu beberapa karyawan lain yang sedang menunggu bis itu juga, sempat kenalan dan ngobrol, kemudian naiklah bis sama-sama. Di bis saya duduk disamping manajer SDM-nya, seorang ibu-ibu muda, kenalan disitu, ngobrol, sudah kayak interview awal. Di bis juga dikenalin beberapa karyawannya yang ternyata banyak orang asingnya juga, terutama dari korea dan jepang.

1,5 jam barulah sampai di pabriknya, melewati hutan karet, betul-betul di pinggiran. Jadi kebanyakan karyawan tinggal di kota,tapi bekerja dipinggiran sana, tiap hari antar jempt naik bis perusahaan. Pabriknya cukup besar ada beberapa gedung, perkantorannya juga ada. komplit satu paket perusahaan. Posisi yang saya minati pun ada disana, bagian ekpor-impor, hanya katanya nanti berusuhan dengan pelabuhan, dengan bea cukai, dan badan badan terkait ekspor impor.

Sesampainya disana, saya sempat diantar dulu ke MES untuk siap-siap sebentar, sambil simpan barang-barang, ada komplek rumah dinas juga disana dengan fasilitas lengkap, internet dan layanan tv internasional tersedia, saya diantar kesana, dan semalamakan tidur disana, nyaman sekali rumahnya. luas lagi.

siangnya baru mulai tes, ada tes tulis dan wawancara. Tes tulis ada psikotes standar saja, yang agak repot pas sudah masuk ke soal berikutnya langsung ditanya mengenai eksor impor berikut prosedur dan aturannya. dan essay.

jujur saya hanya bermodal teori saja, bahan bacaan saja yg saya dapat dari internet, saya menemukan banyak rujukan. untuk tes tulis lumayan lah, meski tidak terisi semua.yang berat ketika wawancara, manajer SDM tadi dan Usernya berdua yang interview. Disitu lebih banyak ditanya prakteknya yang jelas butuh pengalaman, pake bahasa inggris pula disitu. Cukup lama saya interview, lebih dari 1 jam didalam.

sore baru selesai, saya sudah nothing to lose, dari awal tidak begitu pengen juga, apalagi tempatnya jauh juga.meski saya liat pekerjaannya bagus, salary nya juga pasti bagus, fasilitas ada, hanya kemampuan dan pengalaman nol besar dalam ekspor-impor. Selepas itu saya menginap semalam di MES itu, pagi-pagi ada mobil yang antar saya ke terminal, tapi tidak naik Damri, kebetulan tidak ada jadwalnya waktu itu. Terpaksa saya naik bis umum biasa, karena tidak ada pilihan lain, tidak ada kendaraan umum ain yang langsung ke jakarta kecuali pesawat.

Akhirnya naiklah bis umum, mirip bis umum di jakarta yang ekonomi tanpa ac itu. Ada ngetemnya lama, panas lagi, pengamen tak pernah sepi, pedagang asongan, dan pengemis tentunya, sampai pujangga puisi juga ada, pokoknya bis seakan-akan panggung pertunjukan, silih berganti yang ngisi panggung

sampailah di pelabuhan, syukurnya pas sekali waktunya, tak perlu nunggu lama di pelabuhan, kapal sudah datang dan siap berangkat. pertama kali ngantri beli tiket kapal, mirip antri tiket di halte busway. Setelah di kapal saya penasaran dengan kelas bisnis, saya pun masuk kesana dengan tambseahan biaya, dan memang tentu lebih nyamian.tempat duduk empuk pake sofa, ber-AC, dan ada tv-nya, bisa sambil nonton film. oiya di kelas ekonomi juga ada hiburannya, ada panggung kecil, biasanya dangdutan.

Singkatnya sampailah di Merak, waktu itu hari jumat, jadi dari Merak langsung cari bis yang langsung ke Bandung saja, ternyata bis langganan saya ada disana juga, si prima jasa itu tea, tapi rutenya itu lama juga, karena mampir dulu ke terminal serang, berhenti ngetem, sambung ke tangerang sempet ngetem juga, baru langsung mbandung lewat jakarta.. perjalanan yang panjang, baru sampai rumah malam hari.

2 thoughts on “Ke Lampung Timur,, demi sesuap nasi

  1. tambah satu paragraf lagi, ceritakan hasil tesnya, baru deh lengkap satu cerita.

    • hasil tesnya… sudah tersirat sih sebetulnya di paragraf 1 dan 15, saya gak diterima hehe..

      dan memang masih antara ya-tidak kalaupun diterima,

      tapi terima kasih Mia sudah mampir kesini, juga masukannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s