Think Think Think…


Belum beres baca bukunya Harun Yahya yang berjudul “Bagaimana Seorang Muslim Berpikir” , saya langsung ingin sedikit menulis dan membaginya disini, tentunya dengan bahasa saya sendiri.

Dari 3 bab yang sudah saya baca, saya diingatkan akan Kelalaian dan ketidaksadaran, keterlenaan, dalam bukunya bahkan disebut sihir, tersihir. Apa yg lalai? apa yang tidak sadar? bahkan terlena dan tersihir?. Kehidupan dunia ini, kesibukan mengurus dunia, kesibukan bekerja, kesibukan mengurus harta, dst. Dari apa?

1. Kematian

Setiap saat seiring dengan bertambahnya usia kita, disaat itulah jatah waktu kita untuk hidup di dunia ini berkurang dan lambat laun namun pasti kita semakin dekat dengan kematian, akhir hidup kita di dunia ini.

Ya iya, itu bukan hal yg baru, semua juga tahu, apanya yang lalai?

Kita sering lalai dalam mempersiapkan kematian kita, kita sering lalai dan lupa kalau tujuan hidup di dunia ini adalah setelah kematian itu sendiri, apa yang akan kita bawa kesana, bekal apa? tentu bukan harta yang sehari-hari kita susah payah mencarinya, bukan pula kesenangan yang setiap saat kita habiskan waktu untuk itu, bukan pula jabatan, kedudukan, bahkan penghargaan dan pengakuan orang tentang kita, kekuasaan dst

apa kita mau mengorbankan waktu di dunia ini yg hanya sekejap mata saja dibanding kehidupan akherat nanti yang kekal untuk hal-hal yang tidak dapat menyelamatkan kita di akherat nanti? untuk hal yg sia-sia yg tidak dapat jadi bekal pulang kesana? pada mau ke Syurga kan? tapi apakah setiap saat yg kita lakukan adalah harga untuk sebuah tiket ke syurga?

2. Kefanaan dunia dan kekekalan akherat

Itulah kefanaan dunia dimana waktu kita lebih banyak dihabiskan untuknya. Bukan maksudnya meninggalkan semua itu, karena mustahil. hanya mengingatkan bahwa kita harus ingat, kita harus berpikir, kita harus mencari cara, melakukan segala upaya bahwa semua itu akan bermakna dan bernilai untuk akherat nanti. ini adalah sebuah keniscayaan. tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya, ini adalah kenyataan hidup setiap orang yang harus dijalani, ini jalan hidup yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta kita.

Matian-matian kita menjadikan dunia ini tempat kesenangan semata, pada akhirnya pun sama akan berujung kepada kematian, dan memasuki kehidupan akherat yang kekal, pertanyaannya : hidup kekal di Syurga? atau Hidup Kekal di Neraka? kehidupan kita sekarang ini yang bisa menjawabnya dan membuktikannya nanti.

Jadi Allah menciptakan dunia beserta isinya itu tidak main-main, meski ada senda gurau didalamnya. kita ini disini di uji mana yang bertaqwa, mana yang paling banyak timbangan amalnya, mana yang paling banyak kebaikannya, bukan mana yang paling berkuasa, paling berat timbangan hartanya.

3. Berpikir mendalam tentang segala sesuatu

Tentunya disini maksudnya bukan mengajak kita untuk banyak tertegun, merenung, banyak mikir, banyak mengkhayal, dst. tapi berpikir yang produktif, kreatif, inovatif, dan solutif. Bukan berpikir yang kosong dan tidak menghasilkan apa-apa untuk kehidupan kita.

Kemudahan-kemudahan hidup yang kita rasakan sekarang adalah bukti hasil dari pemikiran yang diharapkan itu. Kita tidak hidup dalam kegelapan, kita tidak sulit berkomunikasi lagi satu dengan yg lainnya, tidak kesulitan untuk belajar sesuatu yg baru, bepergian pun waktunya semakin pendek. itulah bentuk hasil pemikiran yang diharapkan. sesederhana Isaac Newton yang memikirkan apel yang jatuh yg menghasilkan teori gaya gravitasi yg kemudian ternyata sangat bermanfaat sekali kemudian hari.

Lebih jauh dari itu, hasil pemikiran itu tentunya harus selaras dengan tujuan kita hidup yang saya sampaikan diawal tadi, untuk akherat kita. kita menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat manusia apabila lillahi ta’ala, apa tidak jadi sebuah bekal yang besar untuk masuk Syurga?

Kita bersungguh-sungguh berpikir bagaimana membantu sesama mengentaskan kemiskinan misalnya, dan betul-betul nyata usaha kita untuk itu. apa tidak berat timbangan amal kita nanti di akherat?

Berpikir bagaimana cara mencerdaskan kehidupan manusia, memberantas buta huruf, meningkatkan kesejahteraan manusia supaya bisa bermanfaat juga untuk yang lainnya. apa tidak dahsyat?

daripada waktu kita habis memikirkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri, cari kebaikan dan manfaat untuk diri kita sendiri. Sebesar itu pula nanti yang didapatkan. sedikit sekali timbangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s