Keterasingan…


Jangan pernah deh kita terasing, atau sekedar merasa asing.. kadang itu tergantung persepsi kita dan bagaimana kita menyikapinya. Hidup di lingkungan yang berbeda dari latar belakang kita seringkali mengarahkan kita memiliki persepsi seperti itu. Padahal tinggal mereset pola pikir kita saja, merubah persepsi dan paradigma kita saja.

Namun saya jadi teringat sebuah keterangan, kalau di akhir jaman nanti seorang muslim sejati itu bagaikan orang asing, sebagaimana awal mulanya ajaran islam datang ketengah-tengah kehidupan manusia secara asing pula. Asing dalam artian sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda, dan mungkin sekali disebut aneh dan tidak biasa.

Disisi lain saya melihat keterasingan itu hanya persepsi dan respon sesaat saja. mungkin hanya sebuah kesan pertama, sebuah fungsi dari waktu saja. Bisa jadi pada awalnya memang aneh, beda, tidak biasa. tapi seiring dengan waktu, lama-lama sedikit demi sedikit keterasingan itu pun akan hilang dan kemudian menjadi sesuatu yang biasa dilihat dan disaksikan.

Yang pasti menjadi orang asing itu tidak enak, apalagi disebut orang aneh, atau mungkin lebih tepatnya orang yang diasingkan, itu lebih tidak enak lagi. Saya teringat salah seorang pahlawan bangsa kita, sang proklamator Soekarno, yang pernah diasingkan ke flores, tepatnya di Ende. salah satu tempat pengasinganya, karena beberapa kali diasingkan oleh penguasa penjajah bangsa untuk meredam pengaruhnya yang luar biasa bagi bangsa, bahkan dunia waktu itu melalui pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakannya.

Sekilas saya melihatnya sebagai suatu penjara yang bisa jadi lebih menderita dibandingkan penjara konvensional, jika dibandingkan dengan dipenjara di penjara Banceuy di Bandung, tentu jauh sekali. Di penjara Banceuy, Soekarno masih sempat banyak menulis kemudian menyebarkannya, sempat berkomunikasi dengan pejuang, masih banyak yang bisa dilakukan, namun di ende sini? tentu itu sulit sekali, apalagi jaman dulu teknologi komunikasi dan informasi tidak semudah sekarang, termasuk teknologi angkutan transportasi.

Namun demikian, ternyata pengasingannya di Ende juga membawa pengaruh kuat juga disekitarnya. Bagaimana masyarakat dan penduduk se-Flores terkena sihir-nya, ya.. Sokarno berhasil memberikan pengaruhnya disini, orang Flores sampai detik ini masih kagum dengan Soekarno, bahkan agak mengagungkannya sampai-sampai konon ada orang yang belum percaya kalau Soekarno sudah meninggal. ah kalau yg ini betul betul terlalu..

Tapi begitulah, pernahkan anda main-main ke desa dan mampir ke rumah penduduk desa? pernahkah anda menemukan di dinding rumahnya poster Soekarno dengan berseragam putih pake kopiah dengan pangkat2nya di dada. di rumah saya dulu juga ada, di perkampungan bandung selatan saya menemukannya, ke arah utara juga, dan ternyata sampai flores juga bisa ditemukan. sebuah fenomena yg saya pikir cukup kuat merasuki sanubari masyarakat mengenai ketokohan beliau ini.

So, tidak ada keterasingan, meskipun kita diasingkan sekalipun, jangan menganggap kita beda, asing, jangan menarik diri. terutama kepada sesama manusia dimanapun berada, toh dulunya manusia itu satu, semua manusia pada dasarnya adalah bersaudara, hanya kita sendiri yang menciptakan benteng-benteng sendiri yang membatasi diri dari itu semua dalam pikiran dan hati kita masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s