Rumah-rumah Ke-2-ku (3)


4. Ruang OSIS SMAN 8 Bandung

Meskipun ruangannya kecil, hanya terdiri dari sofa tamu berikut mejanya, dan satu meja agak besar di bagian dalam tepat menghadap ke pintu masuk, ruangan ini selalu ramai. Terutama sepulang jam sekolah tentunya, pengurus OSIS lalu lalang didalamnya, sampe nongkrong biasanya didepannya lesehan di lantai sambil main git

Aku ikut OSIS tidak lama, tidak selama di KDK-DKM.. hanya sekitar 2 tahunan saja sejak kelas 2, namun dalam waktu 2 tahun itu cukup banyak berpengaruh, banyak hal baru yang dialami, ada perubahan yang kurasa cukup signifikan, terutama dalam masalah pergaulan. Meskipun pergaulannya lebih terbuka, tidak seperti di mesjid yang relatif terjaga terutama dengan lawan jenis, aku pribadi merasakan jadi lebih terbuka juga sama oang lain, mulai rada PD, rasa minder berkurang, pergaulan agak meluas di lingkungan yang heterogen.

Hampir setiap hari sepulang sekolah aku mampir ke ruang osis, waktu itu jadi ketua seksi 7 yang mengurusi urusan kegiatan olah raga dan kreatifitas seni kalau tidak salah, ngurus kegiatan Porseni ( Pekan Olah Raga dan Kesenian) setiap habis ujian triwulanan dulu, ada basket, voley dan sepakbola temtunya, seninya? ada festival band antar kelas di aula dan urus mading osis untuk tulisan-tulisan dan komik-komik biasanya.

Lebih kerasa lagi memang ketika ada acara Bazaar, jauh-jauh hari bahkan jauh-jauh bulan kita udah sibuk nyiapin segala sesuatunya, karena bisa dibiliang disinilah letak gengsinya anak SMA, harga dirinya sekolah ( hehe lebay) dibanding SMA lainnya di Kota Bandung. Dan karena kita termasuk salah satu yag favorit, ,maka tuntutan even bazaar itu tinggi supaya menarik dan wah.. apalagi yang diadakan sebelumnya dikatakan sukses, maka yang selanjutnya minimal harus sama, bahkan harus lebih.

Akibatnya aku benear-benar disibukan dengan yang satu ini, apalagi kebagian logistik waktu itu plus ya segala macam juga sih bantu-bantu yang lain juga, kita sering pulang malem jadinya, bisa sampai jam 9 malem baru pulang, bahkan menjelang minggu-minggu terakhir sebelum hari-H kita sudah sering menginap, tidur di ruang OSIS yang kecil itu, tidur di Sofa, kadang ngampar tikar dibawah, ruang OSIS bemar-benar kayak kapal pecah, berantakan sekali kalau lagi sedang sibuk.

Sehingga betul-betul seperti kamar sendiri, hiburannya ada satu radio-tape milik bersama, gitar dan kartu..😀 ketebak dong kalau lagi ngumpul suka ngapain aja, selain rapat, ngobrol dan curhat, kita suka dengerin musik, demgerim radio, nyanyi-nyanyi pake gitar, dan…maen kartu.. ada kartu remi dengan poker jawanya, dan kartu uno.. sekali-kali maen treat or derr, gimana sih nulisnya? ya itu deh, buka-bukaan rahasia pribadi..biasanya gak jauh dari urusan virus merah jambu masa SMA.. dan semua itu dilakukan di ruang OSIS, bisa ampe semalaman kita main-main gitu, astaghfirullah….

5. Jl. Logam No. 2 Bandung

Aku menyebut tempat ini sebagai tempat peralihan, tempat masa transisi cerita hidupku..kenapa? karena hanya 1 tahun saja sibuk disitu, tapi kemudian menjadi titik tolak nasibku kedepan, hingga saat ini.

Tempat apa sih itu?

Hanya sebuah kantin kecil, kami memberi nama “Kantin Kue dan Snack Wiratama”.. apa itu Wiratama? Wira dari wirausaha, tama dari utama, jadi maksudnya wirausaha yang utama..hehe maklum salah satu pentolannya alumni Pramuka yang punya ide nama itu.

Kantin ini persis disamping sebuah lembaga bimbingan belajar bahasa inggris, berada di satu gedung rumah yang kami sewa. Kemudian tambah lagi ada lembaga bimbel dan privat juga terutama untuk kelulusan sekolah yaitu Ujian Nasional dan ujian masuk kuliah SPMB.

Selepas lulus SMA aku gak langsung kuliah, sebelum ngurus kantin itu aku sempat jadi tukang nyablon di konveksi rumahan sama pramuniaga toko buku terkenal. Jadi kantin itu pelabuhan ke-3 setelah lulus SMA. Ngapain disitu? kasarnya ya aku jaga kantin, jualan kue, jualan cemilan, minuman, jajanan anak-anak, sampai terima titipan orang jual bala-bala/bakwan sama bolu kukus. Disamping itu juga masok kue-kue ke kantin-kantin sekolah bersama 2 orang temanku waktu itu. Jadi sehari-hari aku pagi-pagi sekali habis shubuh sudah jalan naek motor vespa butut yang remnya hampir blong itu, ambil kue dari produsen di beberapa tempat, kemudian ke kantin dulu buat dibagi-bagi ke box tiap sekolah, terus jalan ke kantin-kantin sekolah untuk titip jual konsinyasi. Pasar utama tentu saja SMAku sendiri, ke BPI, 22, 21, SMPku, SMP 28 dst agak lupa, tiap hari kupasok, sorenya aku ambil lagi hasilnya, begitu setiap hari. Sewaktu-waktu ada pesenan untuk kegiatan rapat atau acara lainnya yang butuh kue untuk konsumsi kita layani. Itulah kesibukanku disana.waktu itu sempat juga sambil ngajar privat anak SMP datemg ke rumahnya meski ga sampai selesai jumlah pertemuannya.. sorry..

Sampai akhirnya aku tertarik nyoba masuk kuliah lagi lewat jalur SPMB, karena kebetulan tetangga sebelah lembaga bimbel, aku pun daftar disana intensif hanya sekitar 3 mingguan disela-sela kesibukan usaha, sampai akhirnya lulus dan kemudian mendapat beasiswa untuk menjalani kesibukan baru sebagai mahasiswa dan otomatis kantinnya kutinggalkan, kuwariskan sama temenku, namun akhirnya itu kantin tutup juga setelah beberapa tahun kemudian. Benar-benar hanya tempat persinggahan sementara yang jadi batu loncatan

 

2 thoughts on “Rumah-rumah Ke-2-ku (3)

  1. kalau rumah ke-2-nya ada 1,2,3,dst… jadi rumah ke-2, rumah ke-3, rumah ke-4, dst dong?

    • bagiku tetep semuanya rumah kedua.. bukan masalah jumlahnya, tapi predikatnya.. atau levelnya lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s