Senen terakhir untuk Pak Senen


Memang waktu hidup manusia itu tidak ada seorang pun yang tahu, saya, anda, teman anda, orang tua anda, siapapun tidak ada yang tahu. Itu rahasia Ilahi. Hari ini saya perhatikan di update status social media dan chatting di smartphone baik di BBM, Twitter, dan Facebook ada yang menarik dan cukup mengundang perhatian. Ada beberapa kabar duka orang yang meninggal. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah meninggalnya Bapak Senen, yang dikenal sebagai penjual koran di Kampus Unpad Dipati Ukur. Yang menarik adalah ternyata Almarhum cukup dikenal baik oleh para civitas akademika Unpad mulai dari Mahasiswanya tentu saja, hingga Dosen.

Mahasiswa dan para alumninya tidak sedikit yang memasang foto beliau di Display Picture BBM atau Profile Picturenya, sebagian yang lain share di Facebook, Twitter dan Group-group social media yang ada, bahkan ada yang menceritakannya di Blog pribadi maupun situs organisasi kemahasiswaan, tak terkecuali saya pun menuliskannya disini. Entah kalau di media resmi ada liputannya atau tidak, namun sampai saya menulis ini belum saya temukan, sejauh ini masih dari social media online saja.

Apa saya dulu sempat mengenal beliau?

Oh tentu saja saya mengenalnya, tidak jauh berbeda dengan teman-teman lainnya yang dulu sempat menimba ilmu di Kampus Unpad Dipati Ukur. Apalagi bagi mahasiswa yang sering ngampus diluar jadwal kuliah, yang cukup aktif berorganisasi ataupun nongkrong di kampus.

Saya pribadi lebih sering bertemu beliau di pagi hari, pas ada jadwal kuliah pagi, cukup sering saya beli koran kalau ada kuliah pagi Jam 7, dan ke Almarhumlah biasanya kita beli koran, karena Almarhum beredar di dalam kampus sehingga memudahkan kita untuk mendapatkan informasi dan wawasan, disamping pedagang lain yang menjadi langganan saya di pagi hari yaitu pedagang Roti dan kue2/cemilan-cemilan di pojok dekat Perpustakaan ekstensi FE Unpad, agak lupa namanya.. kalau yang ini lebih muda dari Almarhum

Sekilas memang saya mengenalnya, yang pasti Almarhum orang yang ramah dan baik hati, sopan, kadang saya malu kalau sampai diperlakukan seperti majikan oleh penjual koran atau siapapun yang tampak terlalu berlebihan sikapnya, mendapat panggilan aden aja saya agak gak enak, mestinya malah sebaliknya saya yang harus lebih menghormati yang lebih tua, apalagi sosok seperti Almarhum.

Disini saya hanya bisa mendoakan sebagaimana banyak orang yang mendoakan Almarhum pertanda bahwa Almarhum ini dikenal baik oleh banyak orang, semoga Amal Ibadah dan Amal Sholeh Bapak Senen diterima oleh Allah SWT, ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah SWT, dan diampuni segala Dosa dan Kesalahannya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Bagi kita, semoga kita dapat menteladani akhlak mulia beliau dalam keseharian kita masing-masing, aamiiiiin

Selamat Jalan Bapak Senen

Sosok teladan kami

3 thoughts on “Senen terakhir untuk Pak Senen

  1. Pingback: “Lalu seperti apakah engaku ingin diingat ketika meninggal nanti? ” | Question of Life

  2. tetew.. anda keliru mengetik ‘engkau’ menjadi ‘engaku’..

    terima kasih sudah mampir kesini, salam kenal..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s