FILOSOFI RUMAH TANGGA


Realitas seringkali bertentangan dengan idealisme dalam skup yang utuh dan menyeluruh. Bahkan sepertinya memang tidak akan pernah ada sebuah idealisme sejati yang betul betul jadi realitas secara utuh tanpa cela sedikitpun. Itulah sebuah kesempurnaan yang hanya milik sang Maha Sempurna

Pun dalam sebuah pernikahan, setidaknya pasangan suami istri yang disebut ideal itu  tinggal bersama dalam satu atap, dan atapnya itu atap rumah, bukan atap kosan,dan atap rumahnya juga bukan rumah orang lain atau rumah pondok mertua indah tapi atap rumah milik sendiri hehe😀 ini hal lumrah yang diinginkan oleh pasangan suami istri, apalagi pengantin baru,,tapi apakah hal lumrah ini mudah dicapai??🙂

Saya jadi keinget sewaktu SMA dulu, ada yang cerita ke saya tentang makna dari kata “Rumah Tangga”, kalau gak salah yang cerita ini kalau gak guru agama, ya kakak kelas alumni SMA.. arti kata Rumah Tangga itu sangat bermakna sekali, kita pecahkan per katanya, Rumah disitu artinya dalam hubungan suami istri dalam satu  keluarga itu laksana membangun rumah..

Sehingga yang pertama itu harus paham urutannya, mana dulu yang harus dibangun, mana yang menjadi prioritas dalam keluarga,mana yang prinsip, ini harus menjadi komitmen bersama yang mendasar. Tidak mungkin kita membangun rumah itu tanpa ada pondasi dulu yang kita gali kedalam tanah dengan batu-batu yang kuat, dengan beton yang kokoh.

Dalam tahap ini mungkin kita mengerjakan sesuatu yang cukup berat, namun sayangnya sekilas memang tidak menyenangkan dan tidak kelihatan indah dari luar, tapi ini justru yang paling penting.Apalah artinya bangunan rumah tanpa pondasi, sebagus apapun desainnya, semewah apapun isinya, kalau pondasinya gak ada, terkena hujan angin saja bisa hancur berantakan semuanya.

Yang kedua, rumah itu merupakan kesatuan dari bagian-bagian yang saling melengkapi satu sama lainnya, saling menunjang, dan tidak bisa terpisahkan. United In Diversity..begitu lah bahasa lainnya.Sehingga memang harus dipahami perbedaan-perbedaan yang ada, setiap orang itu berbeda, setiap manusia itu unik, bahkan dalam hubungan suami istri itu perbedaan akan semakin nampak didepan mata. Nah..layaknya rumah tadi, bagaimana caranya setiap perbedaan itu kita letakkan di tempatnya masing-masing, kita susun dan kita rangkai menjadi bagian-bagian yang indah yang membangun kesatuan yang bernama rumah. Kita letakkan kesed itu ya dibawah lantai, genteng itu ya diatas atap rumah, pagar itu ya diluar rumah, dst jangan sampai salah tempatnya..jangan mentang-mentang lantai keramik itu bagus kemudian tidak mau diinjak-injak, ini namanya tidak tahu jati diri..laksana sepatu, sebagus apapun ya memang tempatnya dibawah, diinjak-injak oleh kaki.

Kemudian kenapa ada kata “Tangga” setelah kata “Rumah”? nah ini sebetulnya tujuan yang lebih penting lagi, bagaimana filosofi rumah tadi membawa kita menuju tangga-tangga kehidupan yang lebih baik, tujuannya ya naik tangga, dalam artian kualitas hidup kita tjadi terus lebih baik, bukan turun tangga, apalagi sampai jatuh bersama tangganya. Bagaimana supaya naik tangga? ya tentunya kita harus punya tujuan, punya visi kedepan, punya impian diujung tangga itu setelah susah payah membangun rumah itu, apakah itu?? ya silahkan saja pastinya hal yang terbaik, misal diujung tangga itu kita simpan syurga, jadi katakanlah setiap anak tangga itu adalah setiap tahapan langkah menuju Syurga..🙂

 

 

2 thoughts on “FILOSOFI RUMAH TANGGA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s