Pentingnya Persiapan


Pernah nonton film Kingdom Of Heaven? dalam salah satu adegan perang di film itu, dimana Saladin atau Sholahudin Al-Ayyubi bersama pasukan Muslim hendak menguasai Yerusalem kembali karena kondisinya yang buruk dibawah penguasaan Kerajaan yang notabene juga membawa nama agama, ada satu pola pikir yang sederhana dan mungkin saat itu suatu pencerahan, waktu itu pasukan saladin dikenal pasukan yang kuat dan tak terkalahkan, dan salah satu kuncinya adalah persiapan!

Dan kemudian dalam film itu diceritakan bahwa pasukan musuh Saladin mengambil pelajaran itu, dimana sebelumnya mungkin kalau mau perang persiapan itu tidak matang, tidak punya taktik dan strategi yang jitu, dan tidak jadi sesuatu yang dianggap penting yang namanya persiapan, setelah itu dilakukan ternyata hasilnya memang jauh lebih baik, pasukan Saladin mengalami kesulitan menghadapi musuh untuk menembus benteng Yerusalem karena musuh benar-benar penuh persiapan sebelumnya. Thats The Point

Saya pribadi pun sering kalang kabut menghadapi segala macam kesibukan, segala macam kejadian, segala macam keinginan dan sebetul-betulnya segala macam di kehidupan kita, kalau tanpa persiapan! tapi tentu bukan persiapan yang sekedarnya, tapi persiapan yang betul-betul persiapan yang sungguh-sungguh, persiapan yang optimal dan terbaik yang bisa kita lakukan. Kalau masih sekedarnya, masih formalitas, belum maksimal, ya tentu yang didapat juga sesuai persiapannya. Jika gagal mempersiapkan saja, berarti ya kegagalan yang akan kita dapatkan

Dalam karir pekerjaan jelas sampai dibakukan oleh perusahaan, yang namanya Planning itu wajib ‘ain, dan itu jadi dasar kinerja kita, dalam hal keuangan penting sekali, tanpa ada arah, uang cenderung akan kurang bermanfaat, akan kurang barokah,malah bisa habis menenggelamkan kita karena hutang yang tak terbayar misalnya. Dalam keluarga, dalam hubungan suami-istri, dalam mendidik anak, dalam kelahiran anak, persiapannya harus betul-betul matang, akan menjadi seorang ayah?? ini juga perlu dipersiapkan hehe

Inilah kebiasaan yang mesti dibangun, tapi sekali lagi kebiasaannya bukan yang biasa, tapi yang progressif, yang obsessif, yang prestatif.. yang dengan bermujahadah berusaha mencapai usaha yang maksimal, akibatnya ini dinamis, tidak datar-datar aja yang cenderung membosankan, sehingga sesuai rumusan awa tadi, kalau persiapannya saja sudah begitu, hasilnya pun biasanya gak jauh dari itu, hukum sebab-akibat itu hukum yang pasti. Meskipun ada Tangan Tuhan dalam penentuan hasil, yakinilah itu pasti yang terbaik, gak sia-sia kok dalam persiapan kita sampai jungkir balik, memeras otak mencari cara yang terbaik ketika hasilnya belum sesuai harapan, karena memang itulah tugas kita, kita memang hanya berusaha, hasilnya kita serahkan kepada yang Maha Kuasa, itulah sejatinya seorang Muslim (Orang Yang Berserah Diri)

Dan janganlah bosan merencankan dan mempersiapkan ketika ada yang tidak sesuai dengan rencana sebelumnya, itulah seninya, direncanakan aja bisa gagal, apalagi tidak direncanakan! rencana itu bagaikan peta, gimana caranya kita sampai ke tujuan kalau tidak tau petanya, tidak tau jalannya, lebih sulit bukan?

Yups, saya sedang berupaya memperkuat kebiasaan yang satu ini supaya setiap waktu yang dilalui tidak ada yang sia-sia, tidak ada waktu yang kita bingung mau ngapain, tidak bingung ditanya orang nanti jam 10 pagi mau ngapain, tahun 2014 mau gimana, nanti setelah mati mau kemana? dst karena kita sudah mempersiapkan semuanya.

terakhir saya kutip sebuah hadits berikut :

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata :hadits hasan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s