Semakin merumitnya hal yang sederhana


Setiap kita tentu mengalami masa kecil, terlepas itu masa kecil yang bahagia atau masa kecil yang menderita, masa dimana kita semua masih putih bersih laksana kertas yang belum tertulis tinta. Masa dimana fitrah kita sebagai manusia yang bersih, dan “baik” benar-benar masih terlihat jelas.

Anak kecil berbicara apa adanya, ketika ditanya sesuatu ya dijawab setahunya, ketika tidak tahu sesuatu ya bertanya juga sesukanya, bahkan bagi orang orang dewasa kadang mendapatkan pertanyaan dari anak kecil bisa jadi mencengangkan dan tidak mudah dijawab, padahal itu pertanyaan yang sederhana.

Bagi kita yang sudah memasuki masa dewasa, masa dimana konon katanya masa dimana kita sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang tidak baik, membedakan mana yang benar dan mana yang salah, saya seringkali menemukan sebuah ironi. Ironi dalam menemukan sebuah kebenaran dan sebuah kebaikan.

Semakin dewasa kok rasanya tidak semudah waktu kecil dulu menemukan kebenaran, lebih jauh lagi mengakui kebenaran! kalau tidak tahu ya bilang tidak tau, kalau tidak melakukan ya bilang tidak melakukan, kalau melakukan ya akui saja melakukan… sesederhana itu. Tapi realitasnya kok seringkali jadi merumit.. ada sebuah pernyataan yang berlawanan, ada kesaksian yang bertolak belakang, ada omongan yang saling menyerang.. apa-apaan itu?? bukankah mestinya semakin dewasa bisa lebih bisa membedakan itu??

Ketika orang dewasa berbicara apa adanya justru seringkali malah berbalik, itu tampak seperti sesuatu yang salah dan keluar dari main stream, tidak sedikit lantas jadi cemoohan, jadi hujatan, karena telah membongkar sebuah kebohongan, bahkan mungkin kejahatan yang selama ini tertutupi.. atau sekedar dibilang orang yang polos.. kok bisa?? sebuah paradigma yang keliru menurut saya, paradigma yang salah bagi orang-orang yang tentu saja memiliki keyakinan untuk tetap berjalan di dalam kebenaran dan kebaikan, padahal kalau setiap kita tanya pada hati nurani masing-masing..itulah sebetulnya fitrah kita sebagai manusia sebagaimana masa kecil kita dulu

Kebiasaan-kebiasaan mencari alasan, ngeles, mengeluh dst merupakan ciri-ciri selanjutnya dari menutupi kebenaran, menyamarkan kebenaran, dan parahnya seringkali digunakan untuk meligitimasi sebuah kesalahan dan ketidakbaikan. Jikalau sudah jelas faktanya, janganlah terus mencari-cari celah, mencari-cari pembenaran, untuk apa semua itu?? bagi yang memiliki keyakinan, yakinilah segala sesuatu itu akan kembali ke kita loh.. keburukan yang kita tanam (kebohongan misal), itu akan menjadi keburukan juga buat kita. cepat atau lambat.

Saya suka sedih kalau masih mendapatkan kondisi-kondisi seperti itu disekitar kita, bukan berarti saya ini orang yang bersih tanpa cela, tapi ya tentu saya tidak mengharapkan hal-hal seperti itu semakin berkembang disekitar kita menjadi sebuah hal yang lumrah, yang biasa..

ujungnya saya jadi inget istilah “Akhlaq”, gak heran kalau tujuan utama Allah SWT mengutus Rosulullah SAW ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan Akhlaq.. itulah output yang diharapkan oleh agama! Akhlaq yang bagaimana? tentu saja yang baik, yang benar, Akhlaqul Kariimah, yang saya ceritakan di awal muaranya kesitu.

Semoga setiap kita bisa terus memperbaiki diri

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s