JEDA


Pernahkan anda membayangkan tulisan yang tanpa jeda, tanpa jeda spasi, koma, titik, dan tanda baca lainnya? apakah dapat dengan mudah dibaca dan dipahami?

atau membayangkan jalan raya tanpa jeda persimpangan, jeda lampu merah, jeda rambu-rambu, jeda petunjuk arah, atau jeda berupa bahu jalan? apa yang akan terjadi?

atau anda mendengarkan sesorang berbicara kepada anda tanpa jeda, tanpa berhenti, nyerocos terus..apa akan mudah didengar dan dipahami??

dari perumpamaan-perumpamaan diatas, sudah barang tentu sebuah jeda itu sudah menjadi sebuah kebutuhan, sesuatu yang harus ada, hal yang lumrah ada, untuk membuat segala sesuatu berjalan atau berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.

Tak terkecuali perlakuan kita terhadap diri kita sendiri, perlu jeda-jeda yang harus kita buat, jeda disela-sela kesibukan kita, jeda disetiap keputusan-keputusan, jeda-jeda waktu untuk diri kita sendiri, untuk keluarga, untuk lingkungan dst

Jeda-jeda disini juga bisa berarti pembagian, pengklasifikasian, pemetaan, penyebaran, atau semacam diversifikasi..heh? sejauh itu? ya kenapa tidak, menurut saya itu bagian dari jeda-jeda.. sebuah pola yang baik yang bisa kita lakukan dalam kehidupan kita untuk menghadapi berbagai macam permasalahan yang terjadi.

Jeda pun bisa berarti istirahat,refreshing, kontemplasi, semedi, merenung, bermuhasabah, introspeksi dan aktifitas mundur selangkah, untuk berjalan seribu langkah, atau mundur selangkah untuk berlari.. jeda untuk membuat diri kita lebih baik dari sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s