Antara Pencitraan dan Komunikasi Publik


Akhir-akhir ini kata Pencitraan masih saja sering disebut-sebut orang. Istilah ini mulai menjadi populer sejak sekitar tahun 2009 ketika SBY berhasil terpilih kembali menjadi Presiden RI. Orang-orang berusaha mencari tahu apa rahasianya, dan ketemulah istilah itu, SBY melakukan Pencitraan di Media sehingga berhasil memikat rakyat untuk memilihnya menjadi presiden.

Sampai saat ini istilah ini juga sering dinisbatkan kepada pemerintah yang sedang berkuasa, bahkan jauh sebelumnya pada saat pemilu, orang-orang sering mancapkan istilah ini kepada kandidat yang berhasil berkuasa saat ini.

pertanyaannya, apa yang salah?

Saya pribadi tidak menyukai istilah Pencitraan, karena cenderung berkonotasi negatif yang mengarah kepada pembohongan publik, kemunafikan, dan topengan. Namun sebetulnya ada sisi-sisi lain disitu yang memang semestinya dilakukan oleh seorang pemimpin atau pejabat publik, yaitu Komunikasi Publik. Pemimpin harus berkomunikasi dengan yang dipimpinnya, dan yang namanya komunikasi ya mesti dua arah, informasi jangan didominasi datang dari pemimpin saja, malah seharusnya sebaliknya, pemimpin lah yang harus lebih banyak mendengarkan, menerima informasi dari rakyatnya terutama tentang permasalahan dan keluh kesahnya yang harus segera dicarikan solusinya untuk diatasi oleh pemimpin tersebut.

Dari sisi pemimpin sendiri tentu saja perlu penyampaian informasi yang baik terutama tentang apa yang telah dilakukannya selama ini, dan transparansi mengenai hal-hal yang memang harus diketahui publik seperti masalah anggaran misalnya, ini harus terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan.

Yang perlu digarisbawahi adalah muatan informasinya, jangan cuma keberhasilan-keberhasilan saja yang diekspos, tapi permasalahan-permasalahan juga ga ada masalah untuk diekspos, bisa jadi ada masukan berharga dari rakyat, sehingga ada kolaborasi yang baik antara pemimpin dan rakyatnya, bersatu bekerja bersama.Dan yang Haram adalah jangan mengada-ada infomasi, jangan ada permainan bilang berhasil ini itu, padahal kenyataannya sebaliknya.

Jangan sekali-kali bilang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat… karena rakyat tau sendiri kenyataannya masih jauh… jangan sekali-kali bilang berhasil mereformasi birokrasi.. karena semua tahu birokrasi masih panjang dan melelahkan, jangan sekali-kali bilang kualitas pendidikan kita meningkat  pesat, jauh.. masih jauh..

kata-katanya mesti membumi dan akurat, sampaikanlah apa adanya, rakyat tidak akan lari dari pemimpin yang jujur dan bekerja keras untuk rakyat, tunjukan itu saja, tunjukan bukti kerja kerasnya, tentu saja tidak cuma dengan kata-kata, foto atau video.. jauh dibalik itu ada kejujuran dan ketulusan bekerja untuk rakyat. Bangunlah komunikasi intensif yang sehat, komunikasi yang jujur.

Ketika untuk berkomunikasi saja presiden menunjuk tim komunikasi, ini bagi saya hal yang negatif, ngapain sih untuk berkomunikasi saja bikin tim khusus.. itu malah jadi hambatan. Kalau memang tujuannya biar informasi yang disampaikan bisa detail dan lebih akurat ya menterinya lah yang harus ngomong, jangan-jangan level menteri juga nanti begitu, ada bagian lain lagi yang mewakilinya… ah.. sungguh tidak efisien dan tidak efektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s