Menyeru Kebaikan Tidak Menunggu Baik Dulu


“Jangan menunggu sempurna untuk memulai, tapi mulailah untuk menjadi sempurna!”. Begitupun dalam hal menyeru tentang kebaikan. Jangan menunggu diri kita melakukan semua kebaikan, baru kita menyeru kepada orang lain untuk melakukan kebaikan. Seringkali kita terjebak dengan paradigma seperti itu, ketika kita masih banyak kesalahan dan dosa, namun kita tahu kebaikan – kebaikan yang sebaiknya dilakukan oleh orang lain, maka tetaplah untuk menyampaikan dan menyerukan kebaikan itu kepada orang lain bersamaan dengan menyeru hal yang sama kepada diri sendiri.

Dua hal tersebut bukan sebuah alur proses yang bertahap, tapi keduanya dilakukan secara bersamaan. Menyeru diri sendiri sekaligus menyeru orang lain. Merubah diri sekaligus merubah orang lain. Semakin kita konsisten dengan itu, semakin kuat pengaruh yang ada.

Karena kita adalah manusia yang MUSTAHIL luput dari kesalahan dan dosa, maka ketika kita berparadigma kita tidak bisa menyeru orang lain sebelum kita sendiri melakukannya, maka akan tidak ada orang yang menyeru tentang kebaikan itu, karena pasti tidak mungkin kondisi itu terjadi, tidak ada orang yang dapat bebas dari kesalahan, sekelas Rosul sekalipun sama, bedanya beliau langsung dimaksum, dalam perhatian khusus Allah, ketika melakukan kesalahan langsung diingatkan dan mendapatkan petunjuk secara langsung atau melalui Malaikat – Nya.

Ada satu ungkapan yang menarik yang saya dapatkan dari salah seorang seorang pemimpin puncak perusahaan, kurang lebih begini : “Seringkali kemudahan membuat kita sulit sekali untuk berubah, namun sebaliknya kesulitan – lah yang seringkali membuat kita lebih mudah untuk berubah“. Apa hubungannya dengan yang saya sampaikan diawal?

Kita cenderung merasa aman dan nyaman dengan alasan kita masih belum benar, sehingga enggan, tidak melakukan seruan dan ajakan kebaikan, bahkan bisa jadi acuh tak acuh ketika menyaksikan ketidakbenaran dan tindakan yang salah terjadi disekitar kita. Kondisi nyaman itu adalah bagian dari kemudahan. Dalam lingkup yang luas lagi, misalnya dikantor, kita enggan berubah ketika kita terjebak dalam kebiasaan dan rutinitas yang sudah nyaman, tidak ada konflik, tidak bekerja keras, biasa – biasa saja, namun tetap mendapatkan penghasilan yang cukup, padahal kondisi lingkungan semakin berubah dengan cepat dan menuntut perubahan bisnis yang lebih baik lagi, jika tidak maka bisnis perusahaan akan terancam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s